Minggu, Maret 01, 2009

Menjaga Kemashlahatan Agama

Abu Rayhan Al-Biruni

Suatu hari seorang kawan istri saya datang berkunjung ke rumah, sebut saja namanya Sardina. Umurnya 36 tahun. Ia lahir tahun 1971. Orangnya agak lincah, ramah, dan energik. Ia memiliki putra dua orang dimana anak pertamanya sekelas dengan anak saya yang ketiga di salah satu SDIT di Maros. Sardina membicarakan pengalaman masa lalunya yang ceria. Salah satu pengalamannya yang menarik adalah ketika dia dijodohkan dengan seorang pemuda beragama Kristen yang berniat masuk Islam sekiranya jadi nikah dengan Sardina . Ketika Sardina diberitahukan oleh keluarganya tentang rencana tersebut maka dengan tangkas Sardina mengatakan kepada keluarganya : “Saya tidak mau”. “Mengapa?” sanggah keluarganya. “Masalahnya agama saya saja pas-pasan, bagaimana bisa saya akan ajari orang untuk beragama dengan baik”. Demikianlah jawaban Sardina dengan terus terang.

Inilah pernyataan yang menarik. Agama saya pas-pasan”. Ini sebuah kesadaran dan pengakuan yang jujur. Untung saja Sardina berterus terang seperti itu. Bukan apa-apa sering terjadi seorang lelaki Kristen pindah ke agama Islam ketika hendak menikahi seorang gadis muslimah tetapi setelah mereka menikah ia kembali keagamanya semula dan keluar dari Islam. Bahkan tidak jarang dijumpai lelaki tadi mengajak dan cenderung menekan istirinya supaya ikut pula agamanya. Karena berada pada pihak yang lemah maka Isteri tanpa berfikir panjang dia korbankan dirinya untuk keluar dari agama Islam atau murtad. Padahal hal itu jelas-jelas membuat ia telah menjadi kafir.

Sebagai contoh ada seorang gadis yang saya kenal. Beliau berasal dari kampung saya, sebut saja namanya Eva. Eva pergi merantau ke Kalimantan ikut bersama keluarganya. Beberapa tahun kemudian Eva dinikahkan dengan seorang pegawai Pertamina di Kalimantan. Pada awalnya suaminya itu menyatakan diri memeluk agama Islam. Jadi mereka dinikahkan dengan cara Islam. Tetapi ketika Eva bersama suaminya pindah ke Bandung maka musibah aqidah pun terjadi. Atas dorongan sang Mertua sang Suami kembali ke agama semula yaitu Agama Nasrani. Bahkan hal itu tidak cuku tetapi juga menjadikan Eva juga turut memeluk agama Kristen. Kini mereka sudah memiliki beberapa anak yang semuanya beragama kristen.

Beberapa waktu lalu teman kantor saya bercerita bahwa ada seorang keluarganya juga mengalami hal yang sama dengan Eva. Dia kawin denga seorang lelaki dari Flores yang beragama Kristen dan mengaku memeluk agama Islam ketika menikahi gadis pujaannya itu. Namun setelah mereka menikah Lelaki tadi kembali ke agama semula dan menekan istrinya agar juga murtad dari agama Islam.

Sardina engkau telah selamat dari musibah aqidah. Selamat bagimu saudariku. engkau memang gadis yang tegar.

Yaa Allah Ya Rabbii, saya termenung membaca ayat-Mu mengenai larangan untuk menikahkan seorang gadis muslimah dengan lelaki kafir, musyrik, atau munafik sebagaimana tersebut di bawah ini :

: Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran(Q.S.2:221)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar