Duhai Allah yang Maha Bijak seringkali hamba mendengarkan dari berbagai pihak mngapa orang-orang kafir terhadapmu justru tampaknya hidupnya makmur, sehat, dan kuat. Misalnya orang-orang kafir dikotaku tampaknya mereka kaya, makmur, dan sehat. Begitu pula orang-orang Barat yang hidup di seberang sana di Eropa, Amerika, Australia tampaknya mereka hidup mapan, cerdas, sehat, dan memiliki kemajauan teknologi yang demikian canggih. Demikianlah anggapan oirang-orang terhadap fakta-fakta ini.
Duhai Tuhanku, sesungguhnya rahasia dan hikmah apa yang ada dibalik semua ini ? Tak kurang pertanyaan ini sering melemahkan akal dan iman seseorang yang kurang cerdas untum memahami rahasia penciptaan-Mu.
Aku meyakini bahwa Engkau Maha Tahu dan Maha Bijak. Tentu saja semua masalah ini demikian kecil di sisi-Mu. Walaupun demikian masalah ini menjadi masalah besar di sisi Kami yang dhaif ini.
Duhai Allah yang Maha Rahim dengan nada yang mirip sama mereka mengatakan bahwa banyak manusia di dunia ini, meskipun tidak beriman kepada Allah, mereka menikmati umur yang panjang, memiliki kekayaan yang tak terhitung banyaknya, memiliki kebun yang berbuah dan anak-anak yang sehat. Pada hal orang-orang seperti ini bukannya mencari keridhaan Allah, tetapi semua karunia yang dinikmatinya tersebut justru menjauhkan dirinya dari Allah. Orang-orang seperti ini menjalani kehidupannya yang panjang dengan mendurhakai Allah dan melakukan dosa setiap saat. Bahkan orang seperti ini berangapan bahwa apa yang mereka miliki itu merupakan kebaikan bagi mereka. Mereka terkadang menunjukkan bahwa dengan bukti kepemilikan harta yang melimpah itu justru menunjukkan bahwa cara hidupnya itu sudah benar. Dengan kata lain bagi orang yang tidak memiliki harta yang melimpah maka jalan hidupnya keliru atau menyimpan dari jalan Tuhan. Akibatnya ada diantara hamba-hamba-Mu tergoda juga untuk menempuh jalan mereka itu. Prinsip halal - hamramnya sebuah proses pencarian rezeki tidak lagi dipedulikan. Tak kurang diantara mereka lari ke tukang-tukang ramal, ke dukun-dukun, dan ada pula yang pergi ke sun gai-sungai, ke hutan-hutan dianggap angker membawa sesajen. Itu cara kuno yang masih bertahana sampai hari ini.
Cara lain yang ditempuh mereka membungakan uang dengan prinsip riba, melakukan korupsi, mendirikan hotel yang fungsinya sebagian menjadi rumah pelacur, mengembangkan tempat wisata tempat orang melakukan perzinaham.
Mengapa semua itu terjadi, yaa karena mereka menyangka bahwa kepemilikan kekayaan materil seperti harta benda, pangkat, umur panjang adalah ukuran standar kemajuan dan kebaikan. Apakah ini benar yang Tuhan ?
Namun, al-Qur’an mengingatkan kita tentang rahasia lain dan tujuan Allah di balik nikmat dan waktu yang diberikan kepada mereka:
“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keadaan kafir.” (Q.s. at-Taubah: 85).
“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa Kami menangguhkan mereka itu lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami menangguhkan mereka hanyalah supaya bertambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Q.s. Ali Imran: 178).
“Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu. Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Q.s. al-Mu’minun: 54-6).
Sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut, apa yang dimiliki orang-orang tersebut sesungguhnya bukanlah merupakan kebaikan bagi mereka. Waktu yang diberikan kepada mereka hanyalah untuk menambah dosa mereka. Ketika waktu yang diberikan kepada mereka sudah habis; kekayaan mereka, anak-anak mereka, atau kedudukan mereka, tidak dapat menyelamatkan mereka dari siksa yang pedih. Sesungguhnya, Allah telah menceritakan keadaan umat-umat terdahulu yang hidup dengan kekayaannya dan harta yang melimpah, namun mereka ditimpa azab yang pedih:
“Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka , sedang mereka lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata.” (Q.s. Maryam: 74).
Ayat berikut ini menjelaskan alasan mengapa orang-orang tersebut diberi perpanjangan waktu:
“Katakanlah, ‘Barangsiapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya; sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun Kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya?” (Q.s. Maryam: 75).
Allah adalah Mahaadil dan Maha Penyayang. Dia menciptakan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan kebaikan, dan setiap orang akan dibalas sepenuhnya atas apa yang mereka kerjakan. Menyadari hal ini, orang-orang yang beriman melihat berbagai peristiwa dengan maksud untuk melihat kebijaksanaan dan kebaikan yang diciptakan Allah dalam setiap peristiwa. Jika tidak, orang-orang akan menjalani hidupnya dengan tertipu dan jauh dari kenyataan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar