Senin, November 22, 2010

Saatnya Bersyukur kepada Allah SWT

Takuddin Rahimi

Saat ini adalah saat yang paling baik untuk bersyukur kepada Allah SWT. Betapa tidak, Alhamdulillah aku merasa berkat perlindungan dan petunjuk Allah SWT, Kami sekeluarga dalam keadaan baik. Istri saya Masfufah seorang pekerja keras, disiplin, dan berbakti kepada keluarga. Beliaulah yang menjadi artsitek dan tulang punggung pengarahan bahtera rumah tangga. Meskipun saya tetap menjadi pemimpin tetapi dalam tataran aplikasi istrikulah Masfufah yang memegan perana penting. Karena beliau memiliki kecerdasan terapan. Saya lebih banyak menjadi sebagai supervisor atau pengawas. Tugas saya adalah ibarat kapal laut sayalah yang mengingatkan agar haluan kapal mesti belok kanan atau belok kiri. Demikian pula kapan saat gas mesin ditambah dab kapan saat gas kapal dikurangi.
Demikianlah rumah tangga kami sebagai sebuah bahtera sedang berlayar dalam lautan kehidupan. Sudah sejak tahun 1992, tepatnya tanggal 13 April 1992 kami membentangkan layar bersama istri untuk mengarungi lautan kehidupan ini. Lautan kehidupan yang tentu saja tidak selalu tenang . Terkandang badai angin topan demikian datang menerjang secara tiba-tiba. Kadang sendi-sendi atau tiang-tiang bahtera kami bunyi berderik-derik. Hanya Allah Ta’ala yang Kuasa melindungi Kami sehingga kapal ini kembali tenang berlayar mengarungi lautan yang bergelombang.
Begitu sepanjang perjalanan kami, kadang pula ada karang-karang berbahaya yang menghadang kapal ini, karang itu misalnya berupa berwujud masalah ekonomi, karakter, dan pola hidup yang berbeda. Sekali lagi hanya Allah Ta’ala yang Kuasa sehingga bahtera kapal ini masih tetap utuh masih seperti sediakala. Semua itu karena kami punya komitmen untuk tetap mengikuti pedoman petunjuk arah yang benar yakni Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Kini dalam bahtera rumah tangga kami sudah disertai pula dengan tiga putra yang kami telah sebutkan terdahulu yakni 1. Muh. Rayhan Al-Biruni, 2. Ahmad Fauzan Adzim, dan 3. Ahmad Haidar Al-Mujaddid.
Oleh karena itulah saya katakan saatnyalah sekarang bersyukur dan bertambah kesyukuran kepada Allah SWT., disamping istri yang setia dan shalehah, juga kami diamanahi oleh Allah tiga penumpang baru yang semuanya putra-putra perkasa tentunya. Putra-putra saya ini memiliki karakter dan corak perilaku yang berbeda-beda. Saya kira ini semua menambah warna-warni sehingga keindahan dalam bahtera rumah tangga ini semakin indah.
Putra-putra kami ini alhamdulillah sehat-sehat. Mereka semua dalam keadaan berproses dalam lembaga pendidikan untuk membimbing mereka agar dapat mengerti hakekat kehidupan, tujuan, visi, misi, dan tugas kehidupaan. Saya juga berharap melalui proses pendidikan mereka juga nantinya mengenal dari mana asal-usul mereka, mau kemana arah kehidupan mereka, dan peranan apa secara khusus yang mereka dapat lakoni dalam hidup yang singkat ini.
Yaa sudahlah saya sendiri sudah berumur 40 tahun lebih. Usia yang sudah tidak mudah lagi. Kata Ustad Arsyad Nyero murid dari KH. Fathul Muin Dg. Maggading. Umur 40 tahun itu mengisyatkan bahwa perjalanan waktu yang kita lalui sudah lebih banyak dibanding waktu yang tersisa yang kita akan lalui. Kalaupun Allah SWT masih memberikan waktu hidup yang lebih panjang maka suatu kepastian akan terjadi bahwa kita ini manusia pasti akan menjadi lebih tua, menjadi lebih lemah, sakit, dan akhirnya juga mati. Dengan kata lain, tidak akan ada pernah terjadi seorang yang panjang umur semakin mudah, semakin tua, dan semakin sehat. Nyatanya orang –orang yang bertambah tua semakin llama semakin hilang kemampuan fisiknya. Boleh jadi, mula-mula seseorangakan kehilangan kemampuan pendengarannya, matanya mulai rabun, rambutnya mulai bercampur dengan rambut warna putih atau uban, kulitnya sudah mulai mengeriput, dan ingatannya mulai berkurang, bicaranya sudah mulai tidak teratur, dan emosinya mulai labil, lalu langkahnya sudah mulai melemah.
Saya bertemu kemarin seorang tua dari kampung namanya Pa’ Podang dari Desa Waetuwo, Kec. Tanete Rianttang Timur, Kab. Bone. Beliau adalah tetangga kami di kampung. Saya ketemu beliau dirumah anaknya Ibu Darmawati ( seorang guru agama di Sekolah Menengah Perikakanan ) di BTP Makassar. Beliau ke Makassar untuk menikahkan anaknya Cheng-Ncheng atau Sukarni seorang guru SMP di Kalimantan.
Pa’ Podang menuturkan kepada saya : “secara sepintas orang pandang saya sehat, padahal kini saya tidak bisa lagi berjalan. Saya lemah sekali. Sekiranya saya sehat maka sayalah orang paling bahagia, karena anak-anak saya alhamdulillah sudah dewasa dan bekerja.” Yaa, memang anak-anak beliau itu tiga orang jadi guru negeri, dua orang jadi guru di Kalimantan, dan satu di Bone. Lalu satu lagi laki-laki teman saya jadi guru swasta di Pesantren Hidayatullah.
Pa’Podang melanjutkan, kini tak perlu lagi saya bekerja. Saya tinggal menikmati hidup ini. Tetapi rupanya Allah SWT menguji saya. Allah SWT menguji hambanya dengan dua hal. Pertama, Allah menguji dengan nikmat. Allah SWT mau melihat bagaimana kita ini bersyukur kepada_Nya. Kedua. Allah menguji dengan kesusahan dan kesempitan. Allah sWT mau lihat bagaimana kita ini tetap beriman dan bersabar karena-Nya.
Titik poin yang saya ingin tekankan di sini adalah saya mau buktikan bahwa kalaupun kita diberi umut panjang maka, tidak juga kita akan bertambah kuat.
Saya ingat benar berita di TV tentang penyebab kematian Pak Harto. Beliau itu meninggal karena fisiknya memang telah kalah. Ibarat benda-benda maka memang benda itu sudah uas dimakan zaman. Begitu pula betapa banyak orang-orang yang dahulu waktu saya masih dibangku SD, SMP, dan SMA tampak begitu mudah dan gagah. Kini satu persatu telah wafat dan yang masih hidup tampak demikian lemah dan hilang kewibawaan.
Ini semua membuktikan bahwa memang benar kalau seperti saya ini, orang yang berumur 40 tahun ke atas maka saatnyalah banyak bersyukur, beristigfar, dan bertobat sekalian. Sebab hidup ini kan akan berlanjut kepada periode berikutnya yakni kehidupan akhirat.
Begitupula umur 40 tahun ini, sudah saatnya kita menjadi suri teladan bagi keluarga, menjadi pembimbing, pengawas, dan pengayom. Begitu pula sudah saatnya memiliih dan memilih pekerjaan yang lebih diridhoi Allah SWT. Yang terpenting adalah saatnya untuk banyak berdo’a memohon kebaikan kepada diri dan keluarga kita.
Semua apa yang saya paparkan di atas sebenarnya bersumber dari nasehat Allah SWT dalam Al-Qur’an ,S. Al-Ahqaf (46): 15:
Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah menandungnya dengan susah payah, dan melahirkan nya dengan susah payah(pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdo’a : “Yaa Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau Ridhoi; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh-sungguh, aku termasuk orang muslim.”
Kembali lagi, bahwa saat ini, saya sewajibnya meningkatkan kwantitas dan kwalitas kesyukuran saya kepada Allah SWT., atas nikmat yang Allah Maha Kasih telah limpahkan kepada keluarga kami yang tentu saja tak sanggup kami hitung banyaknya. Di sini saya hendak menyebut beberapa saja antara lain:
1. Kami semua masih hidup. Allah Hual Hayyul Qayyuum masih memberi kepada kami waktu itu untuk bernafas;
2. Kami semua masih dalam keadaan sehat;
3. Kami dalam keadaan masih terus belajar agama;
4. Kami dalam keadaan rukun-rukun tanpa gangguan yang berarti;
5. Kami dalam keadaan saling percaya –mempercayai;
6. Kami dalam keadaan saling menopang dan saling melindungi;
7. Ekonomi keluarga kami masih jalan dengan baik;
8. Insya Allah kelaurga Kami jauh dari cara beragama yang syirik; ibadah yang bid’ah, dan akhlak yang buruk.
9. Kami memang punya utang tetapi tapi masih dalam keadaan terkendali;
10. Kami memiliki keluarga, kerabat, dan sahabat yang memiliki komunikasi dan keakraban yang yang cukup baik.
Demikianlah segelintir nikmat Allah yang Maha Kasih yang dapat kami sebutkan.