Oleh : Drs. Takuddin
.jpg)
Apa yang anda rasakan bila melihat anak anda yang berumur 4,5, atau 6 tahun yang sehat sedang bermain ? Mereka saling bergulat satu sama lain dalam keadaan ceria. Mereka bergulat meniru berbagai gerakan ucapan film seperti forenjer. Lucu bukan ? Bagiku hal itu adalah sebuah tontonan yang sangat menarik dan menyenangkan. Kupastikan berbagai masalah kejiwaan sembuh seketika berkat rekreasi yang menyenangkan itu. Itulah terjadi malam tanggal 13 Januari 2005, Fauzan dan Haedar bergulat disamping ibunya yang sedang membuat kotak kue untuk konsumsi pengajian tanggal 15 Januari 2005. Dengan begitu akrab mereka memakai bahasa mereka sendiri, Fauzan dan Haedar bergulat dan bermain kunfu-kunfuan dengan aturan yang mereka buat sendiri. Mereka menikmati permainan itu dengan senang dan gembira. Betapa anak-anak telah mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sentuhan badan dalam komunikasi. Demikian pula betapa pentingnya kita saling menerima satu samlain tanpa rasa curiga apalagi dengki. Bukan hanya itu kita dapat mendapat hikmah bahwa bila kita sama-sama berlapang dada menerima konsekwensi dari sebuah aturan yang telah ditetakna dengan benar dan baik maka kita akan akan merasakan ketentraman dan kebahagiaan. Ada beberapa aturan yang semestinya dapat kita ikuti dengan lapang dada, antara lain aturan Allah SWT., aturan pemerintah yang sesuai dengan perintah allah, dan aturan alam semesta yang juga hakikatnya aturan Allah pula yang berlaku pada alam. Dengan kata lain dalam kehidupan ini sebagaimana kata para hali hukum bahwa manusia lahir dijemput dengan hukum, manusia hidup akan ditemani oleh hukum dan manusia mati akan diantar dengan hukum. Salah satu hukum yang berlaku di dunia ini adalah hukum keseimbangan alam. Yaitu Alam Tuhan senantiasa akan selalu bergerak untuk mempertahankan keseimbangannya dan kelestariannya. Sehingga setiap kali ada benturan atau gangguan yang mengganggu keseimbangan alam maka dengan mengikuti hukum Allah alam akan bergerak menuju pada titik keseimbangan itu. Ketika itu akan terjadi koncangan yang disebut dengan musibah oleh manusia. Misalnya, ketika manusia telah menutup aliran alam di bumi ini, ketika manusia telah merambah hutan dan merusak sistem penyerapan air dalam hutan begitu pula ketika kulit bumi telah ditutup oleh bangunan semen maka tentu air yang sifatnya selalu mencari tempat terendah akan mengalami kesulitan ketika air akan mengalir melewati kota yang diliputi aspal dan semen. Demikian pula air akan sulit menyerap ke dalam bumi dalam hutan bila mana pepohonan telah musnah. Akibatnya adalah bila hujan turun maka air segera saja membajiri kota dan memasuki rumah-rumah penduduk. Sebab air tidak memiliki jalan yang lancar menuju laut dan air tidak juga memiliki jalan menyerap ke dalam tanah. Begitu pula kalau musim kering telah tibah persediaan air dalam tanah berkurang sebab waktu musim hujan telah tiba kurang air yang dapat menyerapmdan tersimpan dalam tanah.Demikianlah prosesnya sehingga dewasa ini selalu saja kita mengalami masalah dengan air. Banjir besar ketika musim hujan tiba dan Kekeringan ketika musim kemarau telah tiba.
Kita masih ingat dengan jelas bagaimana Jakarta dan kota lain kebanjiran bila musim hujan telah tiba tiap tahun. Betapa keringnya sungai ketika musim kemarau telah tiba. Sebagaimana kita rasakan sekarang lampu PLN mati akibat air dibakaru sanga berkurang.
Ada banyak contoh musibah sering terjadi di alam ini yang sesungguhnya merupakan gerakan alam untuk menccapai kembali titik keseimbangan. Pada akhir tahun 2004 Tsunami telah meluluh lantakkan bumi Aceh. Tahun 2003 lalu bendungan Bili-Bili dan sekitarnya hampir saja musnah akibat tanah longsor di Gowa. Tahun 2006 Gempa menggoncang Jogakarta dan sekitarnya, Gelombang Tsunami kembali menggetarkan Jawa Barat, dan Sul-Sel juga turut disapu dengan banjir banding khususnya di Sinjai, dan sampai tahun 2007 ini Lumpur Lapindo belum juga ada tanda-tanda berhenti. Hampir tiap saat kita disentakkan dengan gedoran musibah. Belum sembuh luka akibat jatuhnya pesawat terbang Adam Air, tenggelamnya kapal laut tahun 2006 lalu, kini dihadang lagi dengan bencana longsor tanah di Luwu akibat penggundulan hutan. Akibat keserahakan 7 pengusaha Sul-Sel tertipu dengan kasus penggandaan uang- sebuah perilaku yang sangat memalukan dan memilukan. Yang tertipupun bukan orang bodoh menurut ukuran intelektual, mereka pengusaha dan ilmuan. Yang menipu pun demikian halnya.
Sama halnya dengan alam sosial kemasyarakatan. Di situ juga ada gerakan yang dinamis untuk menuju kembali pada titik keseimbangan hukum sosial.
Bila saja orang-orang dewasa dapat dengan sportif mengikuti aturan main dalam berbagai aktivitas hidup ini, seperti aktivitas ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan, seni dan budaya maka kita yakin bahwa akan berkurang jumlah orang yang datang ke pengadilan untuk menuntut haknya. Ringkasnya bila saja manusia berlapang dada atau ridha menerima hukum keseimbangan alam Tuhan, andai saja manusia lapang dada menerima hakikat dirinya sebagai manusia, manusia yang terbatas, manusia yang lemah namun menjadi kuat bila bersama dengan tuhannya, andai saja manusia mau berlapang dada atas sesamanya makhluk lain maka boleh jadi akan berkurang istri menangis ditinggal sumainya, boleh jadi tidak ada pula anak yang mengisap narkona karena kecewa terhadap orang tuanya yang tidak ada waktu lagi untuk bersama-sama dan mendengarkan keluhan jiwanya. Tetapi lain andai, lain pula fakta. Di bawah ini aku akan merekam tentang beberapa peristiwa yang mengambarkan kelapangan dada anak-anak kita.
Suatu malam tanggal 25 Desember 2004 Fauzan dan Haedar bermain gambar dengan harmonis, saling menghibur dalam suasana demikian akrab. Terlihat mereka saling memerlukan. Keindahan suasana menjadi hilang bila satu diantara mereka pergi dan berhenti bermain. Meskipun ketika mereka sedang bermain sering terjadi pula konflik kecil. Bahkan pernah satu ketika tiba-tiba saja Haedar berteriak dan mencakar kakaknya. Namun demikian dengan bahasa mereka sendiri mereka mampu menyelesaikan konfliknya itu tanpa bantuan ahli konseling. Satu sebabnya anak-anak itu dapat berlaku lapang setelah mereka memahami satu sama lain. Rupanya keinginan kuat untuk kembali akur adalah faktor utama mempercepat hubungan yang harmonis diantara mereka berdua. Demikian pula kebutuhan kebersamaan juga turut mempercepat penyelesaian konflik diantara anak-anak kita. Sehingga baru saja mereka berdebat dan bahkan sampai bergulat, segera salah satu diantara mereka mencoba lagi untuk kembali damai. Anehnya pihak yang satu juga tidak spontan menerima perdamaian itu. Kemanakah konflik tadi, mengapa tidak ada dendam ? Konflik dan dendam lenyap ditelan kedamaian diantara mereka. Kelapangan dada untuk saling menerima lebih kuat tekanannya disbanding dengan dendam dan konflik. Di manakah anak-anak kita belajar tentang nilai tersebut padahal mereka juga masih ada di TK. SD, dan SMP ? Rupanya kekuatan itu ada fitrah anak kita yang masih suci dan berfungsi. Begitulah yang dialami oleh anak aku tadi.
Jadi apa yang dialami oleh kedua anak tersebut bukanlah hal yang istimewa sebab pengalaman anak aku tersebut hampir terjadi di dalam semua dunia anak-anak. Aku menyaksikan anak-anak tetangga aku juga berlaku demikian. Misalnya saja ketika sekelompok anak-anak bermain-main dimesjid tiba-tiba diantara mereka ada yang berteriak dan marah namun taklama kemudian mereka kembali akrab.
Suatu malam anak saya Haedar berkonflik dengan Iyang anak tetangga, tetapi pada malam berikutnya mereka sudah berangkulan lagi. Mungkin kita pernah saksikan atau baca bahwa dua anak yang bertetangga berkelahi, tetapi orang tua mereka turut campur tangan. Apa yang terjadi sementara orang tua mereka berdebat anak-anak mereka sudah bermain bola bersama. Akhirnya orang tua mereka kecele dan malu karenanya sebab mau berhenti berdebat sementara gengsi sudah naik ke kepala.
Kok bisa demikian ? Ada teman menjawab itulah anak-anak ? Lalu kalau orang dewasa berlaku demikian apakah orang dewasa itu kemudian disebut berlaku seperti anak-anak ? Kalau memang demikian anggapan orang-orang, maka itukah sebabnya bila orang dewasa berselisih paham susah untuk kembali menjalin hubungan yang baik ? Inikah yang sebabnya orang-orang dalam dunia partai, dunia perdagangan, dan dunia pemerintahan sering terjadi konflik yang berkepanjangan ? Kita masih ingat bahkan mungkin mengalami apa yang dirasakan sekarang negara kita ? Ketika Habibie menjadi Presiden RI 3 tidak henti-hentinya kritikan, demonstrasi, dan bahkan cemohan dan ejekan menimpa beliau. Bahkan sampai pada Laporan pertanggungjawaban beliau masih diperlakukan kurang pantas oleh beberapa anggota DPR.MPR. Sehingga kecerdasan dan ketaqwaan Pak Habibi yang memungkinkan membangun kembali Indonesia tidak dapat lagi dimaksimalkan. Malah kemudian MPR memilih Gus Dur untuk menjadi Presiden RI IV. Selepas kelebihan Gus Dur, tentunya lewat sejarah kita telah menyaksikan bersama bahwa untuk menjadi seorang Presiden tidaklah semua orang layak meskipun oraang tersebut tergolong cerdas seperti Gus Dur.
Padahal sekiranya para anggota dewan mau sedikit saja arif dan lapang dada menerima keberadaan Habibie yang cerdas itu maka boleh jadi arah sejarah bangsa kita akan sedikit lain. Tetapi karena masa lalu Habibie yang dekat dengan Suharto maka orang tidak dapa menerima Habibie meskipun Habibie seseorang manusia yang memiliki karakter dan kepribadiannya sendiri. Indonesia gagal berlapang dada untuk menerima sosok Habibie dan beliaupun berlapang dada untuk lengser tanpa basa basi lagi. Indonesiapun lega karenanya pada saat itu. Sampai di sini aku teringat sebuah falsafah bugis tentang lapang dada itu sebagaimana tersebut di bawah ini
Dalam kearifan orang Bugis ada ungkapan yang senada dengan istilah legowo yakni : “Samponi batu malepang.” Ungkapan ini demikian pendek tetapi meiliki makna yang dalam dan kearifan yang tinggi. Dengan ungkapan ini berbagai konflik social dapat diselesaikan dengan muda. Berbagai cobaan masalah atau berbagai perisitwa yang menimpa kita akan dapat kita terima dengan demikian masalah tidak berlanjut lagi ke arah yang lebih parah lagi. “Samponi batu malepang” yang artinya tutuplah dengan batu datar sehingga kotoran atau bau yang kurang sedap akan terkubur selamanya dan tak akan tercium lagi. Tafsirnya kalau kasus yang berlarut-larut dialami dan sudah sulit lagi menentukan ujung pangkalnya maka kasus itu bias kita sama-sama kita terima saja dengan jalan saling menghalalkan, saling menerima, saling memaafkan, dan saling membagi dengan perasaan lapang dada. Dengan demikian kita sudahi saja kasus itu tak diperpanjang lagi, tak lagi saling menuntut meskipun memang ada pihak yang bersalah. Tetapi pihak yang dirugikan sudah memaafkan dan pihak yang merugikan sudahlah minta maaf secara tulis.
Sudahlah, mari kita saling memaafkan . Sampai di sini teringatlah kita pada pesan-pesan Allah SWT dalam Al-Qur’an,Surah Ali Imran (134)
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."(Q.S.3:134)
Melihat janji Allah tersebut yakinlah kita bahwa ketika perilaku di atas pastilah sulit. Memang demikian halnya, pekerjaan sulit dilakukan biasanya pahalanya dan hasilnya besar. Guru saya Ustad Andis sering mengatakan bahwa besarnya pahala selaras dengan tingkat kesulitan pekerjaan itu. Surga adalah janji yang sangat agung dari Allah SWT. Tentulah juga membutuhkan amalan yang agung seperti halnya di atas.
Memang disadari Lapang dada, legowo, samponi batu malepang bukanlah perilaku yang mudah dicapai melainkan membutuhkan Program Ulang Bahasa Saraf serta berlatih dengan kontinyu untuk dapat mencapai tingkatan itu.
Betapa sikap legowo ini, lapang dada ini demikian bermamfaat bagi kita dalam melayari lautan kehidupan yang diiringi dengan gelombang masalah yang beriringan satu sama lain. Mungkin anda dan pasti aku alami rasa sumpek di tempat kerja, di dalam kendaraan pete-pete, di dalam perjalanan, bahkan pada kompleks di mana kita tinggal.
Untuk meringankan beban batin dari keadaan seperti tersebut maka obat yang paling mujarab adalah lapang dada. Dari manakah sumber lapang dada itu? Para ahli ilmu jiwa menemukan bahwa lapang dada itu antara lain berasal dari paradigma kita. Dengan kata lain berasal dari bagaimana cara kita memberi anggapan, memberi cap, dan dari sudut mana kita memandang dan mempersepsi sebuah kasus.
Ada beberapa kasus yang menarik dan dapat menjadikan orang berlapang dada. Salah satu diantaranya adalah sebagai berikut :
Suatu peristiwa sebagaimana dikemukakan oleh KH. Bisri yakni seorang santri merasa memiliki masalah yang membuat hatinya sempit dan meresahkan perasaanya. Beban hidupnya terasa begitu berat. Sang santri tersebut pergi menghadap kepada Pak Kyai di mana dia mengaji. Sesampai di rumah kyai menghadaplah santri tersebut dan mengutarakan seluruh masalah yang dihadapi. Setelah Pak Kyai mendengarkan masalah santri tersebut beliau senyum-senyum saja. Santri tadi penasaran, lantas bertanya, “Maaf Pak Kyai, adakah sesuatu yang lucu dari kisah aku tadi? Ah tidak, kisahmu tadi kisah yang lumrah saja. Waduh bagaimana pula Pak Kyai menganggap kisahku lumrah, padahal menurut aku kisah itu justru masalah yang besar. Yaa, sudahlah, begini saja, kata Pak Kyai. Ambilkan aku garam setengah gelas lalu tuangkan air setengah gelas lalu taruh dalam mangkuk. Kemudian coba kamu cicipi garam itu. Bagaimana rasanya ? Santri spotan menjawab, ah a ahah aaaah, terasa asin sekali pak Kyai. Selanjutnya Pak Kyai katakana coba tuankan garan itu ke dalam ember lalu tuangkan lagi air satu liter. Sekarang bagaiaman rasanya ? Ah masih asin Pak Kyai. Baik sekarang tuangkan lagi air setengah ember bagaimana rasanya ? Yaa asin sedikit Pak kyai. Begini saja itu garam dalam ember tadi tuangkan saja ke dalam kolam air bagaimana rasanya ? Santri yang dalam keadaan masih bingung apa maunya Pak Kyai, dia menjawab : “sekarang air garam sudah tidak terasa lagi”. Tetapi kamu yakin air kolam ini mengandung garam ? Tanya Pak Kyai. Yaa, jawab santri dengan spontan
Lalu Pak kyai melanjutkan bahwa begitulah pula orang yang punya masalah bila ia berlapang dada maka masalah tetap ada tetapi sudah tidak terasa sumpek lagi sehingga otak kita lebih mudah berfikir untuk memecahka masalahnya. Maksud Pak Kyai bagaimana ? Maksudnya ibarat garam setengah gelas tadi adalah masalah dan air adalah hati kita maka bila hati kita sempit seperti gelas kecil maka tentu masalah itu sangat terasa sebagaimana halnya rasa garam dalam segelas air. Begitu pula bila hati kita ibara sebesar ember maka garam sudah terasa tidak asin lagi, sama dengan hati kita bila lebih lapang lagi maka masalah sudah tidak lagi menghimpit. Begitu bila hati kita sudah seperti kolam air bagi setengah gelas garam maka masalah itu samasekali tidak mengganggu lagi hati kita. Dengam demikian maka kita tak lagi merasakan kesumpekan hidup.
Dalam hidup ini terkadang muncul berbagai hal yang sesungguhnya bukan menjadi masalah, hanya saja kita menjadikan masalah karena kita tidak mampu menerimanya. Misalnya saja, kita mau sekali makan ayam, tetapi yang sanggup kita beli hanya ikan teri. Kalau saja kita dapat mengklik otak kita dan menganalisa lebih jauh tentang gizi yang dikandung oleh ikan teri, dan memerintahkan indra perasa kita supaya bersiap-siap menerima rasa ikan teri maka insya Allah hati kita akan terasa lebih lapang dan kita akan menerima dengan baik kehadiran ikan teri itu di atas meja hidangan.
Berbagai penyelidikan telah diadakan oleh para ahli Ilmu Jiwa mengenai kebahagiaan dan kesimpulan cukup menakjubkan. Para ahli Ilmu Jiwa seperti almarhum guru aku DR. Najamuddin seorang ahli konseling UNHAS telah mengadakan pengamatan dan beliau menemukan bahwa :
Orang bahagia itu berasal dari orang kaya dan miskin, sama halnya orang tidak bahagia. Begitu pula orang bahagia dan orang tidak bahagia itu sama diketemukan pada :
a orang kaya dan orang miskin
b. orang bersekolah tinggi dan bersekolah rendah
c. orang bangswan dan non bangsawan
d. orang pintar dan orang bodoh
Tetapi pada orang yang berlapang dada atau ridha terhadap dirinya ternyata rata-rata diantara mereka ditemukan dalam keadaan bahagia. Orang yang menerima kenyataannya misalnya sebagai seorang wanita, melahirkan, menjadi istri, berhidung pesek, pendek, dan punya suami sakit, dan rezki sempit jauh lebih bahagia hidupnya dari seorang peremuan cantik yang tidak mau menerima kenyataan bahwa dia bukan bangsawan, dia seharusnya memang melahirkan dan menyusui, dan bibirnya tidak seindah yang diharapkan.
Orang yang tidak dapat berlapang dada mudah sekali terserang stress, marah, dan putus asa. Sehingga mereka mudah sekali melakukan perbuatan yang sangat membahayakan dirinya seperti, sakit, balas dendam, dan bahkan bunuh diri. Aku pernah membaca sebuah berita tentang remaja di Jepang, yakni gara-gara seorang remaja dibombe sama temannya maka dia bunuh diri. Aku juga pernah membaca berita tentang seorng ibu yang diterapi oleh Ibu Prof.DR. Zakiah Darajat. Yakni Ibu tersebut mengalami penyakit jiwa berat. Beliau stress dan sulit bicara. Dia hanya terdiam di rumahnya yang megah lengkap dengan perabotan yang mewah. Pada awalnya orang bingung apa yang membuat ibu yang berumur 40 tahun ini menjadi seorang ibu yang murung dan mengalami penderitana jiwa yang menghawatirkan. Ternyata Ibu Zakiah menemukan bahwa Ibu tersebut memiliki seorang suami yang kini sibuk di luar rumah mengurus berbagai proyek. Sebelum suaminya sukses menjadi pengusaha besar suaminya itu lebih lama tinggal di rumah bersama istrinya. Demikian pula selanjutnya ibu tersebut mempunyai beberapa anak yang kini mulai besar. Oleh karena itu anak-anak yang mulai remaja itu banyak menbghabiskan waktunya di sekolah dan di rumah kawannya. Padahal waktu kecil mereka lebih banyak tinggal di rumah. Kesemua fakta itu tidak dapat diterima oleh ibu tersebut. Sehjingga jiwanya tergoncang.
Ketika dilihat KTPnya ibu tersebut seorang muslimah. Hanya saja beliau jarang shalat. Oleh karena itu dapat dipahami kalau jiwa nya rapuh sebab beliau tidak punya tempat mengadu mengenai masalahnya itu.
Yaa lapang dada, legowo, sekali lagi adalah sebuah sikap yang sanga jitu untuk mengubah warna menjadi berwarna warni. Beberapa kali terjadi anak-anak aku Rayhan, Fauzan, dan Haedar mesti berlapang dada ketika mereka meminta sesuatu kepada aku, namun karena tiba-tiba ada aktivitas lain yang aku mesti lakukan maka meskipu aku sudah mengiyakan permintaannya maka aku tidak dapat memenuhinya. Aku minta maaf, akhirnya mereka dapat menerima meskipun awalnya sulit menerima fakta ini. Aku masih ingat dengan jelas berkali-kali Rayhan hendak memiliki sepatu bola dan akupun mengiyakan. Tetapi uang aku tidak cukup maka aku mohon maaf dan ia dapat menerimanya maka Rayhanpun tetap bermain bola dengan ceria meskipun tanpa sepatu sama sekali. Begitu pula Haedar dan Fauzan biasa memesan air tahu ketika aku sedang mengajar di Gombara. Tetapi ketika aku pulang kebetulan penjual air tahunya tidak ada maka ketika aku sampai di rumah akuk jelaskan bahwa air tahu tidak ada maka merekapun tidak marah dan meronta-ronta. Subhanallah sungguh aku cemburu terhadap kekuatan merka untuk menahan gejolak hatinya itu.
Tahun 2005 bulan Juli Rayhan telah berangkat ke Gontor untuk menuntut ilmu. Ketika aku ketik bagian ini ada khabar dia sakit cacar. Dia sempat menelpon uminya sebelum ke rumah sakit. Aku tergetar dan terharu. Betapa anak berumur 12 tahun itu sudah mengalami pengalaman besar dalam hidupnya. Ia mesti mengalami perpisahan dengan kedua orang tuanya dalam keadaan sakit. Aku sendiri tak sanggup menahan benteng pertahanan batinku sehingga air mata yang tidak seberapa ini mengalir deras jatuh melewati pipi. Aku terharu ketika mendengar cerita umi Rayhan mengatakan kepada aku bahwa Rayhan menelpon meminta uminya ke Jawa untuk menjenguknya. Lantas uminya menjawab bahwa maaf anakku, aku tidak punya cukup uang untuk ke jawa sekarang. Maka aku dengar Rayhan belajar lebih berlapang dada lagi untuk menerima kenyataan berat ini.
Begitu pula aku pernah menyaksikan Fauzan menangis diam-diam sambil berbaring dan mencium foto kakaknya itu. Lagi-lagi aku dan Uminya sangat terharu melihat pemandangan yang mengharukan itu.
Pada hal sewaktu Rayhan masih ada di Makassar sering Fauzan mengatakan bahwa biarlah Kakak Rahyan pergai karena selalu nagangguki. Itulah faktanya ketika Rayhan pergi Fauzan merasakan bahwa jauh lebih bahagia Rayhan ada meskipun ia sering mengganggunya. Fauzan telah berlapang dada untuk menerima keadaan Kakaknya Rayhan.
Tidak jarang pula Haedar tanya kepada Uminya bahwa kapan Kakak Iyang pulang ? Pertanyaan ini juga berat bagiku sebab Haedar mesti belajar berlapang dada untuk memahami dan mengakui bahwa memang Rayhan akan tinggal lama di Jawa minimal insya Allah 7 tahun. Waktu yang cukup panjang.
Duhai Tuhan sekiranya hamba-Mu lapang dada dan ridha terhadap-MU sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, Nabi Muhammad adalah Rasulullah, dan menerima keadaan fisik dan non-fisiknya apa adanya maka inya Allah tidak ada lagi manusia akan menderita , tidak ada manusia merampok, mencuri, menipu, korupsi, sogok, dan tidak ada lagi manusia membunuh dirinya sendiri.
Salah satu cara untuk berlapang dada adalah komunikasikan apa saja yang kita rasakan sebagai sebuah masalah kepada kawan, orang tua, dan terutama kepada Allah SWT.