Jumat, Februari 27, 2009

Mengapa Akhlak?

Oleh:Takuddin

Saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyadari dan memahami satu hal yakni: “Tidaklah Aku diutus kecuali memperbaiki akhlak yang rusak.”

Kalimat tersebut adalah sabda Rasulullah yang mulia. Pada awalnya saya tidak memahami kandungan nyata dari hadis tersebut.

Saya berfikir mengapa Rasulullah SAW tidak justru mengatakan yang lain dari tujuan pengutusannya sebagai Rasul, misalnya: Membangun negara adidaya seperti Amerika, mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, memperkuat sendi-sendi perekonomian, dan membangun politik bangsa dan ummat sebagaimana seluruh pemerintah negeri melakukan hal tersebut saat ini.

Barulah pada bulan ramadhan tahun 1426 H ketika saya berumur kurang lebih 40 tahun saya baru menyadari bahwa sungguh tepat sabda Rasul tersebut. Sebab mengenai urusan Ilmu dan Teknologi tidak perlu menjadi misi utama seorang Rasul. Pengembangan ilmu dan teknologi memang menjadi naluri hidup seorang manusia sesuai dengan pertumbuhan kebudayaan mereka. Jadi ada atau tidak adanya anjuran untuk itu maka manusia tetap akan menggarap bidang ini sebagai jawaban kebutuhan hidup mereka. Entah pengembangan itu bersumber dari nurani hati yang suci atau dari nafsu yang liar. Demikianlah pula urusan politik dan ekonomi yang lebih bersifat materialistis lagi tidak perlu diajarkan kepada manusia yang memang telah memiliki potensi itu sejak lahir. Urusan tersebut sama kedudukannya dengan naluri berenang seekor anak itik dan naluri memburu bagi seeokor anak singa yang akan dengan sendirinya berkembang pada saat mereka membutuhknnya.

Santriwati Pesantren muhammadiyah Darul Arqam makassar

Agaknya Rasul SAW dengan ketajaman dan kebeningan hatinya beliau telah menjangkau semua itu. Tentu saja semua dapat diperbuat oleh Rasulullah sebagai utusan Allah Yang maha Bijak. Demikianlah yang diakui oleh Rasulullah sendiri bahwa saya adalah manusia biasa yang diturunkan wahyu. Sungguh suatu kecerdasan yang indah lagi merendahkan hati disertai dengan kejujuran yang tiada bandingnya. Sebagai Rahmatan LilAlamin beliau dididik langsung oleh Allah Maha Pendidik. Hasilnya beliau menjadi manusia yang agung, manusia yang besar, dan makhluk termulia. Dalam berbagai ayat Allah menampakkan pujian-Nya kepada Rasul-Nya : Sesungguhnya engkau Muhammad berakhlak yang agung. Di manakah sesungguhnya letak keagungan akhlak Muhammad itu ?

Sesungguhnya mengakui sesuatu yang patut diakui adalah puncak kecerdasan dan puncak pencapaian peradaban kebudayaan manusia yang paling tinggi. Dan hal itulah yang telah dicapai oleh seorang Muhammad. Kecerdasan semacam itu adalah induknya akhlak yang paling mulia.

Akhlak mulia inilah dalam bahasa filsafat disebut dengan cara memperlakukan, cara diberlakukan, cara berbuat, cara beribadah muatan nilai, muatan perbuatan, dan muatan amalan. Akhlak tersebut bersemayam dalam hati manusia dan diterjemahkan oleh otak lalu otak menginstrksikan ke seluruh sel-sel tubuh termasuk anggota badan seperti pancan indera.

Ketika seorang gadis cantik mandi dalam kamar mandi maka sesungguhnya bisa saja seseorng lelaki mengintipnya, aplagi kalau gadis itu memang juga senang dintip. Tetapi pemuda tersebut boleh jadi tidak mengintipnya karena pengakuan atas dirinya terhadap tuntunan Ilahi, bahwa perbuatan mengintip itu

v Menurut ajaran allah SWT mengintip terlarang

v Menentang ajaran Allah SWT melampau batas kesopanan dan kewajaran

v Perbuatan mengintip itu sendiri perbuatan yang tercela bagi seorang pemuda terhormat

v Mengintip itu memalukan, sebab termasuk perbuatan kepengecutan

v Mengintip itu akan berlanjut kepada perzinahan.

v Perzinahan itu merusak tatanan peradaban manusia yang mulia.

v Perzinahan itu adalah peradaban binatang liar.

v Kita bukan binatang.

Dalam bahasa moderennya kecerdasan tersebut disebut kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Walaupun sesungguhnya istilah tersebut belumlah dapat menandingi kandungan dari akhlak itu sendiri. Akhlak yang seakar dengan kata khalaka, mempunyai akar kata yang sama dengan kata khaliq dan makhluq. Kaitannya dengan ini maka karakter yang ada dalam istilah akhlak memiliki hubungan yang kuat sekali antara kedudukan seorang manusia sebagai hamba –makhluk dengan Allah sebagai Khaliq. Dengan ukuran seperti itu maka nilai baik buruk pada akhlak ditentukan standarnya oleh Allah SWT sendiri lewat kitab suci dan sunnah Rasulnya.

Rasul SAW benar ketika melihat bahwa manusia dengan akal, nafsu, dan perasaannya sanggup mencipta, berfikir, dan berbudaya tinggi tetapi kesemuanya itu menjadi sia-sia ketika tanpa diselimuti dengan akhlak sebab justru kemajuan dicapai manusia itu menjadi penyebab utama munculnya berbagai macam kerusakan dan penderitaan manusia terhadap sesamanya. Tanpa akhlak maka seorang ilmuwan tidak segan-segan memproduksi racun yang mematikan untuk sesama manusia. Seorang ahli teknologi tidak segan-segan menciptakan senjata pemusnah yang diarahkan kepada sesama manusia sebagaimana kita saksikan.

Demikianlah seterusnya seorang politisi amat tega tertawa-twa senang karena berhasil menggolkan konsep tentang tambahan jatah Rp. 10 juta rupiah perbulan sementara rakyat yang memilihnya dulu justru ada yang mati dalam kemiskinan ketika antri menunggu dana kompensasi BBM. Kejadian disebut dengan kejadian yang paradoksal. Bahkan terdengar kabar beberapa kepala desa terpaksa minum racun karena tidak tahan di demo rakyat, ada juga yang minggat.

Ditengah-tengah kejadian itu, pemerintah dan legislative, orang-orang kaya, dan orang mempunyai kekuatan lainnya sangat terkesan tidak peduli. Mengapa ? Sebenarnya mereka memiliki kemauan untuk peduli tetapi tidak memiliki kesanggupan ? Lho kok gitu. Iya kesanggupan gerak itu bersumber dari nurani yang bermandikan cahaya akhlakul karimah. Justru inilah kendala utama nurani para politisi dan penguasa serta orang yang mampu lainnya, telah lama padam sejak mereka duduk di atas kursi empuk, makan, minum, dan punya rumah serba gratis atau karena tunjangan jabatan.

Memang betullah kata sebagian ahli hikmah kenikmatan dunia dapat mematikan mata hati yang justru menjadi alat utama untuk melihat hakikat kebenaran, kebaikan, keadilan, dan kein

moral mereka tanggungjawab kita

Rabu, Februari 18, 2009

Anaku Guruku : Lapang Dada

Oleh : Drs. Takuddin

Apa yang anda rasakan bila melihat anak anda yang berumur 4,5, atau 6 tahun yang sehat sedang bermain ? Mereka saling bergulat satu sama lain dalam keadaan ceria. Mereka bergulat meniru berbagai gerakan ucapan film seperti forenjer. Lucu bukan ? Bagiku hal itu adalah sebuah tontonan yang sangat menarik dan menyenangkan. Kupastikan berbagai masalah kejiwaan sembuh seketika berkat rekreasi yang menyenangkan itu. Itulah terjadi malam tanggal 13 Januari 2005, Fauzan dan Haedar bergulat disamping ibunya yang sedang membuat kotak kue untuk konsumsi pengajian tanggal 15 Januari 2005. Dengan begitu akrab mereka memakai bahasa mereka sendiri, Fauzan dan Haedar bergulat dan bermain kunfu-kunfuan dengan aturan yang mereka buat sendiri. Mereka menikmati permainan itu dengan senang dan gembira. Betapa anak-anak telah mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sentuhan badan dalam komunikasi. Demikian pula betapa pentingnya kita saling menerima satu samlain tanpa rasa curiga apalagi dengki. Bukan hanya itu kita dapat mendapat hikmah bahwa bila kita sama-sama berlapang dada menerima konsekwensi dari sebuah aturan yang telah ditetakna dengan benar dan baik maka kita akan akan merasakan ketentraman dan kebahagiaan. Ada beberapa aturan yang semestinya dapat kita ikuti dengan lapang dada, antara lain aturan Allah SWT., aturan pemerintah yang sesuai dengan perintah allah, dan aturan alam semesta yang juga hakikatnya aturan Allah pula yang berlaku pada alam. Dengan kata lain dalam kehidupan ini sebagaimana kata para hali hukum bahwa manusia lahir dijemput dengan hukum, manusia hidup akan ditemani oleh hukum dan manusia mati akan diantar dengan hukum. Salah satu hukum yang berlaku di dunia ini adalah hukum keseimbangan alam. Yaitu Alam Tuhan senantiasa akan selalu bergerak untuk mempertahankan keseimbangannya dan kelestariannya. Sehingga setiap kali ada benturan atau gangguan yang mengganggu keseimbangan alam maka dengan mengikuti hukum Allah alam akan bergerak menuju pada titik keseimbangan itu. Ketika itu akan terjadi koncangan yang disebut dengan musibah oleh manusia. Misalnya, ketika manusia telah menutup aliran alam di bumi ini, ketika manusia telah merambah hutan dan merusak sistem penyerapan air dalam hutan begitu pula ketika kulit bumi telah ditutup oleh bangunan semen maka tentu air yang sifatnya selalu mencari tempat terendah akan mengalami kesulitan ketika air akan mengalir melewati kota yang diliputi aspal dan semen. Demikian pula air akan sulit menyerap ke dalam bumi dalam hutan bila mana pepohonan telah musnah. Akibatnya adalah bila hujan turun maka air segera saja membajiri kota dan memasuki rumah-rumah penduduk. Sebab air tidak memiliki jalan yang lancar menuju laut dan air tidak juga memiliki jalan menyerap ke dalam tanah. Begitu pula kalau musim kering telah tibah persediaan air dalam tanah berkurang sebab waktu musim hujan telah tiba kurang air yang dapat menyerapmdan tersimpan dalam tanah.Demikianlah prosesnya sehingga dewasa ini selalu saja kita mengalami masalah dengan air. Banjir besar ketika musim hujan tiba dan Kekeringan ketika musim kemarau telah tiba.
Kita masih ingat dengan jelas bagaimana Jakarta dan kota lain kebanjiran bila musim hujan telah tiba tiap tahun. Betapa keringnya sungai ketika musim kemarau telah tiba. Sebagaimana kita rasakan sekarang lampu PLN mati akibat air dibakaru sanga berkurang.
Ada banyak contoh musibah sering terjadi di alam ini yang sesungguhnya merupakan gerakan alam untuk menccapai kembali titik keseimbangan. Pada akhir tahun 2004 Tsunami telah meluluh lantakkan bumi Aceh. Tahun 2003 lalu bendungan Bili-Bili dan sekitarnya hampir saja musnah akibat tanah longsor di Gowa. Tahun 2006 Gempa menggoncang Jogakarta dan sekitarnya, Gelombang Tsunami kembali menggetarkan Jawa Barat, dan Sul-Sel juga turut disapu dengan banjir banding khususnya di Sinjai, dan sampai tahun 2007 ini Lumpur Lapindo belum juga ada tanda-tanda berhenti. Hampir tiap saat kita disentakkan dengan gedoran musibah. Belum sembuh luka akibat jatuhnya pesawat terbang Adam Air, tenggelamnya kapal laut tahun 2006 lalu, kini dihadang lagi dengan bencana longsor tanah di Luwu akibat penggundulan hutan. Akibat keserahakan 7 pengusaha Sul-Sel tertipu dengan kasus penggandaan uang- sebuah perilaku yang sangat memalukan dan memilukan. Yang tertipupun bukan orang bodoh menurut ukuran intelektual, mereka pengusaha dan ilmuan. Yang menipu pun demikian halnya.
Sama halnya dengan alam sosial kemasyarakatan. Di situ juga ada gerakan yang dinamis untuk menuju kembali pada titik keseimbangan hukum sosial.
Bila saja orang-orang dewasa dapat dengan sportif mengikuti aturan main dalam berbagai aktivitas hidup ini, seperti aktivitas ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan, seni dan budaya maka kita yakin bahwa akan berkurang jumlah orang yang datang ke pengadilan untuk menuntut haknya. Ringkasnya bila saja manusia berlapang dada atau ridha menerima hukum keseimbangan alam Tuhan, andai saja manusia lapang dada menerima hakikat dirinya sebagai manusia, manusia yang terbatas, manusia yang lemah namun menjadi kuat bila bersama dengan tuhannya, andai saja manusia mau berlapang dada atas sesamanya makhluk lain maka boleh jadi akan berkurang istri menangis ditinggal sumainya, boleh jadi tidak ada pula anak yang mengisap narkona karena kecewa terhadap orang tuanya yang tidak ada waktu lagi untuk bersama-sama dan mendengarkan keluhan jiwanya. Tetapi lain andai, lain pula fakta. Di bawah ini aku akan merekam tentang beberapa peristiwa yang mengambarkan kelapangan dada anak-anak kita.
Suatu malam tanggal 25 Desember 2004 Fauzan dan Haedar bermain gambar dengan harmonis, saling menghibur dalam suasana demikian akrab. Terlihat mereka saling memerlukan. Keindahan suasana menjadi hilang bila satu diantara mereka pergi dan berhenti bermain. Meskipun ketika mereka sedang bermain sering terjadi pula konflik kecil. Bahkan pernah satu ketika tiba-tiba saja Haedar berteriak dan mencakar kakaknya. Namun demikian dengan bahasa mereka sendiri mereka mampu menyelesaikan konfliknya itu tanpa bantuan ahli konseling. Satu sebabnya anak-anak itu dapat berlaku lapang setelah mereka memahami satu sama lain. Rupanya keinginan kuat untuk kembali akur adalah faktor utama mempercepat hubungan yang harmonis diantara mereka berdua. Demikian pula kebutuhan kebersamaan juga turut mempercepat penyelesaian konflik diantara anak-anak kita. Sehingga baru saja mereka berdebat dan bahkan sampai bergulat, segera salah satu diantara mereka mencoba lagi untuk kembali damai. Anehnya pihak yang satu juga tidak spontan menerima perdamaian itu. Kemanakah konflik tadi, mengapa tidak ada dendam ? Konflik dan dendam lenyap ditelan kedamaian diantara mereka. Kelapangan dada untuk saling menerima lebih kuat tekanannya disbanding dengan dendam dan konflik. Di manakah anak-anak kita belajar tentang nilai tersebut padahal mereka juga masih ada di TK. SD, dan SMP ? Rupanya kekuatan itu ada fitrah anak kita yang masih suci dan berfungsi. Begitulah yang dialami oleh anak aku tadi.
Jadi apa yang dialami oleh kedua anak tersebut bukanlah hal yang istimewa sebab pengalaman anak aku tersebut hampir terjadi di dalam semua dunia anak-anak. Aku menyaksikan anak-anak tetangga aku juga berlaku demikian. Misalnya saja ketika sekelompok anak-anak bermain-main dimesjid tiba-tiba diantara mereka ada yang berteriak dan marah namun taklama kemudian mereka kembali akrab.
Suatu malam anak saya Haedar berkonflik dengan Iyang anak tetangga, tetapi pada malam berikutnya mereka sudah berangkulan lagi. Mungkin kita pernah saksikan atau baca bahwa dua anak yang bertetangga berkelahi, tetapi orang tua mereka turut campur tangan. Apa yang terjadi sementara orang tua mereka berdebat anak-anak mereka sudah bermain bola bersama. Akhirnya orang tua mereka kecele dan malu karenanya sebab mau berhenti berdebat sementara gengsi sudah naik ke kepala.
Kok bisa demikian ? Ada teman menjawab itulah anak-anak ? Lalu kalau orang dewasa berlaku demikian apakah orang dewasa itu kemudian disebut berlaku seperti anak-anak ? Kalau memang demikian anggapan orang-orang, maka itukah sebabnya bila orang dewasa berselisih paham susah untuk kembali menjalin hubungan yang baik ? Inikah yang sebabnya orang-orang dalam dunia partai, dunia perdagangan, dan dunia pemerintahan sering terjadi konflik yang berkepanjangan ? Kita masih ingat bahkan mungkin mengalami apa yang dirasakan sekarang negara kita ? Ketika Habibie menjadi Presiden RI 3 tidak henti-hentinya kritikan, demonstrasi, dan bahkan cemohan dan ejekan menimpa beliau. Bahkan sampai pada Laporan pertanggungjawaban beliau masih diperlakukan kurang pantas oleh beberapa anggota DPR.MPR. Sehingga kecerdasan dan ketaqwaan Pak Habibi yang memungkinkan membangun kembali Indonesia tidak dapat lagi dimaksimalkan. Malah kemudian MPR memilih Gus Dur untuk menjadi Presiden RI IV. Selepas kelebihan Gus Dur, tentunya lewat sejarah kita telah menyaksikan bersama bahwa untuk menjadi seorang Presiden tidaklah semua orang layak meskipun oraang tersebut tergolong cerdas seperti Gus Dur.
Padahal sekiranya para anggota dewan mau sedikit saja arif dan lapang dada menerima keberadaan Habibie yang cerdas itu maka boleh jadi arah sejarah bangsa kita akan sedikit lain. Tetapi karena masa lalu Habibie yang dekat dengan Suharto maka orang tidak dapa menerima Habibie meskipun Habibie seseorang manusia yang memiliki karakter dan kepribadiannya sendiri. Indonesia gagal berlapang dada untuk menerima sosok Habibie dan beliaupun berlapang dada untuk lengser tanpa basa basi lagi. Indonesiapun lega karenanya pada saat itu. Sampai di sini aku teringat sebuah falsafah bugis tentang lapang dada itu sebagaimana tersebut di bawah ini
Dalam kearifan orang Bugis ada ungkapan yang senada dengan istilah legowo yakni : “Samponi batu malepang.” Ungkapan ini demikian pendek tetapi meiliki makna yang dalam dan kearifan yang tinggi. Dengan ungkapan ini berbagai konflik social dapat diselesaikan dengan muda. Berbagai cobaan masalah atau berbagai perisitwa yang menimpa kita akan dapat kita terima dengan demikian masalah tidak berlanjut lagi ke arah yang lebih parah lagi. “Samponi batu malepang” yang artinya tutuplah dengan batu datar sehingga kotoran atau bau yang kurang sedap akan terkubur selamanya dan tak akan tercium lagi. Tafsirnya kalau kasus yang berlarut-larut dialami dan sudah sulit lagi menentukan ujung pangkalnya maka kasus itu bias kita sama-sama kita terima saja dengan jalan saling menghalalkan, saling menerima, saling memaafkan, dan saling membagi dengan perasaan lapang dada. Dengan demikian kita sudahi saja kasus itu tak diperpanjang lagi, tak lagi saling menuntut meskipun memang ada pihak yang bersalah. Tetapi pihak yang dirugikan sudah memaafkan dan pihak yang merugikan sudahlah minta maaf secara tulis.

Sudahlah, mari kita saling memaafkan . Sampai di sini teringatlah kita pada pesan-pesan Allah SWT dalam Al-Qur’an,Surah Ali Imran (134)

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."(Q.S.3:134)

Melihat janji Allah tersebut yakinlah kita bahwa ketika perilaku di atas pastilah sulit. Memang demikian halnya, pekerjaan sulit dilakukan biasanya pahalanya dan hasilnya besar. Guru saya Ustad Andis sering mengatakan bahwa besarnya pahala selaras dengan tingkat kesulitan pekerjaan itu. Surga adalah janji yang sangat agung dari Allah SWT. Tentulah juga membutuhkan amalan yang agung seperti halnya di atas.
Memang disadari Lapang dada, legowo, samponi batu malepang bukanlah perilaku yang mudah dicapai melainkan membutuhkan Program Ulang Bahasa Saraf serta berlatih dengan kontinyu untuk dapat mencapai tingkatan itu.
Betapa sikap legowo ini, lapang dada ini demikian bermamfaat bagi kita dalam melayari lautan kehidupan yang diiringi dengan gelombang masalah yang beriringan satu sama lain. Mungkin anda dan pasti aku alami rasa sumpek di tempat kerja, di dalam kendaraan pete-pete, di dalam perjalanan, bahkan pada kompleks di mana kita tinggal.
Untuk meringankan beban batin dari keadaan seperti tersebut maka obat yang paling mujarab adalah lapang dada. Dari manakah sumber lapang dada itu? Para ahli ilmu jiwa menemukan bahwa lapang dada itu antara lain berasal dari paradigma kita. Dengan kata lain berasal dari bagaimana cara kita memberi anggapan, memberi cap, dan dari sudut mana kita memandang dan mempersepsi sebuah kasus.
Ada beberapa kasus yang menarik dan dapat menjadikan orang berlapang dada. Salah satu diantaranya adalah sebagai berikut :
Suatu peristiwa sebagaimana dikemukakan oleh KH. Bisri yakni seorang santri merasa memiliki masalah yang membuat hatinya sempit dan meresahkan perasaanya. Beban hidupnya terasa begitu berat. Sang santri tersebut pergi menghadap kepada Pak Kyai di mana dia mengaji. Sesampai di rumah kyai menghadaplah santri tersebut dan mengutarakan seluruh masalah yang dihadapi. Setelah Pak Kyai mendengarkan masalah santri tersebut beliau senyum-senyum saja. Santri tadi penasaran, lantas bertanya, “Maaf Pak Kyai, adakah sesuatu yang lucu dari kisah aku tadi? Ah tidak, kisahmu tadi kisah yang lumrah saja. Waduh bagaimana pula Pak Kyai menganggap kisahku lumrah, padahal menurut aku kisah itu justru masalah yang besar. Yaa, sudahlah, begini saja, kata Pak Kyai. Ambilkan aku garam setengah gelas lalu tuangkan air setengah gelas lalu taruh dalam mangkuk. Kemudian coba kamu cicipi garam itu. Bagaimana rasanya ? Santri spotan menjawab, ah a ahah aaaah, terasa asin sekali pak Kyai. Selanjutnya Pak Kyai katakana coba tuankan garan itu ke dalam ember lalu tuangkan lagi air satu liter. Sekarang bagaiaman rasanya ? Ah masih asin Pak Kyai. Baik sekarang tuangkan lagi air setengah ember bagaimana rasanya ? Yaa asin sedikit Pak kyai. Begini saja itu garam dalam ember tadi tuangkan saja ke dalam kolam air bagaimana rasanya ? Santri yang dalam keadaan masih bingung apa maunya Pak Kyai, dia menjawab : “sekarang air garam sudah tidak terasa lagi”. Tetapi kamu yakin air kolam ini mengandung garam ? Tanya Pak Kyai. Yaa, jawab santri dengan spontan
Lalu Pak kyai melanjutkan bahwa begitulah pula orang yang punya masalah bila ia berlapang dada maka masalah tetap ada tetapi sudah tidak terasa sumpek lagi sehingga otak kita lebih mudah berfikir untuk memecahka masalahnya. Maksud Pak Kyai bagaimana ? Maksudnya ibarat garam setengah gelas tadi adalah masalah dan air adalah hati kita maka bila hati kita sempit seperti gelas kecil maka tentu masalah itu sangat terasa sebagaimana halnya rasa garam dalam segelas air. Begitu pula bila hati kita ibara sebesar ember maka garam sudah terasa tidak asin lagi, sama dengan hati kita bila lebih lapang lagi maka masalah sudah tidak lagi menghimpit. Begitu bila hati kita sudah seperti kolam air bagi setengah gelas garam maka masalah itu samasekali tidak mengganggu lagi hati kita. Dengam demikian maka kita tak lagi merasakan kesumpekan hidup.
Dalam hidup ini terkadang muncul berbagai hal yang sesungguhnya bukan menjadi masalah, hanya saja kita menjadikan masalah karena kita tidak mampu menerimanya. Misalnya saja, kita mau sekali makan ayam, tetapi yang sanggup kita beli hanya ikan teri. Kalau saja kita dapat mengklik otak kita dan menganalisa lebih jauh tentang gizi yang dikandung oleh ikan teri, dan memerintahkan indra perasa kita supaya bersiap-siap menerima rasa ikan teri maka insya Allah hati kita akan terasa lebih lapang dan kita akan menerima dengan baik kehadiran ikan teri itu di atas meja hidangan.
Berbagai penyelidikan telah diadakan oleh para ahli Ilmu Jiwa mengenai kebahagiaan dan kesimpulan cukup menakjubkan. Para ahli Ilmu Jiwa seperti almarhum guru aku DR. Najamuddin seorang ahli konseling UNHAS telah mengadakan pengamatan dan beliau menemukan bahwa :
Orang bahagia itu berasal dari orang kaya dan miskin, sama halnya orang tidak bahagia. Begitu pula orang bahagia dan orang tidak bahagia itu sama diketemukan pada :
a orang kaya dan orang miskin
b. orang bersekolah tinggi dan bersekolah rendah
c. orang bangswan dan non bangsawan
d. orang pintar dan orang bodoh

Tetapi pada orang yang berlapang dada atau ridha terhadap dirinya ternyata rata-rata diantara mereka ditemukan dalam keadaan bahagia. Orang yang menerima kenyataannya misalnya sebagai seorang wanita, melahirkan, menjadi istri, berhidung pesek, pendek, dan punya suami sakit, dan rezki sempit jauh lebih bahagia hidupnya dari seorang peremuan cantik yang tidak mau menerima kenyataan bahwa dia bukan bangsawan, dia seharusnya memang melahirkan dan menyusui, dan bibirnya tidak seindah yang diharapkan.
Orang yang tidak dapat berlapang dada mudah sekali terserang stress, marah, dan putus asa. Sehingga mereka mudah sekali melakukan perbuatan yang sangat membahayakan dirinya seperti, sakit, balas dendam, dan bahkan bunuh diri. Aku pernah membaca sebuah berita tentang remaja di Jepang, yakni gara-gara seorang remaja dibombe sama temannya maka dia bunuh diri. Aku juga pernah membaca berita tentang seorng ibu yang diterapi oleh Ibu Prof.DR. Zakiah Darajat. Yakni Ibu tersebut mengalami penyakit jiwa berat. Beliau stress dan sulit bicara. Dia hanya terdiam di rumahnya yang megah lengkap dengan perabotan yang mewah. Pada awalnya orang bingung apa yang membuat ibu yang berumur 40 tahun ini menjadi seorang ibu yang murung dan mengalami penderitana jiwa yang menghawatirkan. Ternyata Ibu Zakiah menemukan bahwa Ibu tersebut memiliki seorang suami yang kini sibuk di luar rumah mengurus berbagai proyek. Sebelum suaminya sukses menjadi pengusaha besar suaminya itu lebih lama tinggal di rumah bersama istrinya. Demikian pula selanjutnya ibu tersebut mempunyai beberapa anak yang kini mulai besar. Oleh karena itu anak-anak yang mulai remaja itu banyak menbghabiskan waktunya di sekolah dan di rumah kawannya. Padahal waktu kecil mereka lebih banyak tinggal di rumah. Kesemua fakta itu tidak dapat diterima oleh ibu tersebut. Sehjingga jiwanya tergoncang.
Ketika dilihat KTPnya ibu tersebut seorang muslimah. Hanya saja beliau jarang shalat. Oleh karena itu dapat dipahami kalau jiwa nya rapuh sebab beliau tidak punya tempat mengadu mengenai masalahnya itu.
Yaa lapang dada, legowo, sekali lagi adalah sebuah sikap yang sanga jitu untuk mengubah warna menjadi berwarna warni. Beberapa kali terjadi anak-anak aku Rayhan, Fauzan, dan Haedar mesti berlapang dada ketika mereka meminta sesuatu kepada aku, namun karena tiba-tiba ada aktivitas lain yang aku mesti lakukan maka meskipu aku sudah mengiyakan permintaannya maka aku tidak dapat memenuhinya. Aku minta maaf, akhirnya mereka dapat menerima meskipun awalnya sulit menerima fakta ini. Aku masih ingat dengan jelas berkali-kali Rayhan hendak memiliki sepatu bola dan akupun mengiyakan. Tetapi uang aku tidak cukup maka aku mohon maaf dan ia dapat menerimanya maka Rayhanpun tetap bermain bola dengan ceria meskipun tanpa sepatu sama sekali. Begitu pula Haedar dan Fauzan biasa memesan air tahu ketika aku sedang mengajar di Gombara. Tetapi ketika aku pulang kebetulan penjual air tahunya tidak ada maka ketika aku sampai di rumah akuk jelaskan bahwa air tahu tidak ada maka merekapun tidak marah dan meronta-ronta. Subhanallah sungguh aku cemburu terhadap kekuatan merka untuk menahan gejolak hatinya itu.
Tahun 2005 bulan Juli Rayhan telah berangkat ke Gontor untuk menuntut ilmu. Ketika aku ketik bagian ini ada khabar dia sakit cacar. Dia sempat menelpon uminya sebelum ke rumah sakit. Aku tergetar dan terharu. Betapa anak berumur 12 tahun itu sudah mengalami pengalaman besar dalam hidupnya. Ia mesti mengalami perpisahan dengan kedua orang tuanya dalam keadaan sakit. Aku sendiri tak sanggup menahan benteng pertahanan batinku sehingga air mata yang tidak seberapa ini mengalir deras jatuh melewati pipi. Aku terharu ketika mendengar cerita umi Rayhan mengatakan kepada aku bahwa Rayhan menelpon meminta uminya ke Jawa untuk menjenguknya. Lantas uminya menjawab bahwa maaf anakku, aku tidak punya cukup uang untuk ke jawa sekarang. Maka aku dengar Rayhan belajar lebih berlapang dada lagi untuk menerima kenyataan berat ini.
Begitu pula aku pernah menyaksikan Fauzan menangis diam-diam sambil berbaring dan mencium foto kakaknya itu. Lagi-lagi aku dan Uminya sangat terharu melihat pemandangan yang mengharukan itu.
Pada hal sewaktu Rayhan masih ada di Makassar sering Fauzan mengatakan bahwa biarlah Kakak Rahyan pergai karena selalu nagangguki. Itulah faktanya ketika Rayhan pergi Fauzan merasakan bahwa jauh lebih bahagia Rayhan ada meskipun ia sering mengganggunya. Fauzan telah berlapang dada untuk menerima keadaan Kakaknya Rayhan.
Tidak jarang pula Haedar tanya kepada Uminya bahwa kapan Kakak Iyang pulang ? Pertanyaan ini juga berat bagiku sebab Haedar mesti belajar berlapang dada untuk memahami dan mengakui bahwa memang Rayhan akan tinggal lama di Jawa minimal insya Allah 7 tahun. Waktu yang cukup panjang.
Duhai Tuhan sekiranya hamba-Mu lapang dada dan ridha terhadap-MU sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, Nabi Muhammad adalah Rasulullah, dan menerima keadaan fisik dan non-fisiknya apa adanya maka inya Allah tidak ada lagi manusia akan menderita , tidak ada manusia merampok, mencuri, menipu, korupsi, sogok, dan tidak ada lagi manusia membunuh dirinya sendiri.
Salah satu cara untuk berlapang dada adalah komunikasikan apa saja yang kita rasakan sebagai sebuah masalah kepada kawan, orang tua, dan terutama kepada Allah SWT.

Selasa, Februari 17, 2009

Lupa


Satu hari saya bertemu dengan kawan saya. Kira-kira sudah kurang lebih 20 tahun tidak bertemu. Kini tiba-tiba dia muncul di hadapanku dengan penampilan yang meyakinkan. Di sampingnya terparkir sebuah mobil kijang innova keluaran terbaru. Dari ceritnya saya ketahui dia memiliki perusahaan yang lagi naik daun. Jadi nggak heran bila kini ia memilikifasilitas kehidupan lebih dari cukup. Ringkasnya kini sebut saja dia Fauzan telah sukses dalam kehidupanya minimal dari sisi materi dan status sosial. Dengan umur kurang 40 tahun temanku itu sudah meraih banyak hal dalam kehidupannya.

Pada waktu lain saya bertemu teman lama saya lagi. Tepatnya dia teman kuliah saya dahulu di Unhas tahun 80 an. Kini dia telah menjadi seorang Professor atau Guru Besar Univesitas Haanuddin. Sebut saja namanya Prof.DR. Burhanuddin. Saya senang melihat dan mendengarkan kawan-kawan saya kini memantapkan eksistensinya dalam kehidupan yang singkat ini. Mengapa saya senang karena sekurang-kurangnya satu alasan sebagaimana pernah dikatakan oleh kawan saya yang lain yakni Drs. Arsyad bahwa kalau kawan kita sukses kitapun turut bergembira dan kalau kawan kita gagal maka kita turut cemas dan bersedih. Mengapa memangnya ? Yaa kalau kawan kita sukses kitapun ikut lega sebab tanggungjawab kita berkurang untuk ikut memikirkan apalagi ikut minta bantu kepada mereka. Tetapi kalau kawan kita gagal maka kita ikut cemas dan sedih. Sebab kita ini juga bagian dari orang yang belum menggembirakan lantaran kawan datang minta tolong. Aduh sedihnya. Betapa hati ingin menolong tetapi apa daya kitapun belum sanggup menolong diri sendiri.

Begitulah kira-kira canda kawan saya itu, meskipun memang mengandung kebenaran. Sekarang saya ingin melihat apa yang saya telah capai setelah berumur 40 tahun ? Adakah saya telah mapan dalam ekonomi, pendidikan, kebahagian rumah tangga, dan adakah saya telah memiliki fasilitas kehidupan semisal rumah, mobil, dan fasilitas lainnya ?

Wahai Tuhan yang Maha Bijak, ampunkan kesalahan hamba bila karena kebodohan sehingga bertanya seperti hal tersebut ?
Tak lama kemudian hatiku tiba-tiba terasa mendapat jawaban yang demikian terang.
1. Wahai Takuddin, cobalah berdiam sejenak saja. Lalu ambillah kertas dan pena kemudian tulislah satu persatu nikmat Allah padamu ? Subhanallah aku diam membisu tanganku tak mampu kugerakkan. Mulutku hanya mampu beristigfar. Wajahku tertunduk malu kepada zat yang maha cerdas dan bijak.
2. Kemudian suara batinku melanjutkan : "Takuddin apakah engkau cemburu kepada pemberian Allah pada makhluk lainnya yang nilainya tidak lebih dari sebesar biji atom jika dibanding dengan kenikmatan yang kamu rasakan dengan dekatnya engkau pada Allah.
3. Wahai Takuddin apa jadinya bila seorang anak kecil diberi pisau tajam dan api ? Tentu anak itu akan melukai dirinya bukan. Boleh jadi karena cintanya kepada anak-anaknya, maka seorang ibu tidak memberikan pisau tajam kepada anakya.
4. Memang diakui bahwa telah dijadikan indah menurut syahwat manusia terhadap harta benda, emas, perak, kebun-kebun, binatang ternak, jabatan, anak-anak, dan juga wanita. Tetapi semua itu bukanlah tanda bahwa bila engkau memperoleh semua itu maka kamu adalah orang bahagia dan beruntung.
5. Jadi sangat tergantug kepada kemampuan mensyukuri semua hal tadi. Bila engkau menjadi manusia yang cerdas dan setia bersyukur atas semua amanah Tuhan maka alangkah baiknya fasilitas tadi. Tetapi bila fasilitas tadi membuat kamu sombong dan ingkar maka alangkah jeleknya fasilitas tadi.

Kini aku ingat kembali setelah lupa bahwa setiap orang insya Allah akan diberi nikmat kepada Allah menurut kadar masing-masing menurut kadar keilmuan, ikhtiar, dan kebijsanaan Tuhan yang Maha Cerdas. Alhamdulillah saya sehat, punya orang tua mencintai saya, punya saudara yang siap menolong saat diperlukan. Saya tidak punya hutang, masih hidup dan memiliki anak-anak yang sehat, cerdas dan menyenangkan. Terutama saya masih mengenal Tuhanku.