Rabu, Desember 09, 2009

Tip-Tip dalam Bekerja bagi seorang PNS

Abu Rayhan Al-Biruni

Pagi yang cerah saya bersama dengan pegawai negeri sipil (PNS) lingkungan Pemda Maros lainnya siap-siap untuk apel pagi sebelum masuk kantor untuk bekerja sebagai pelayan masyarakat. Sebelum apel pagi dimulai saya memperhatikan beberapa pegawai yang setia untuk ikut apel pagi meskipun yang hadir jauh lebih sedikit dibanding yang tidak hadir. Padahal sebagai pegawai salah satu adab yang baik adalah patuh kepada pimpinan. Itulah paham saya bila seseorang menjadi PNS. Oleh karena itu tentu saja untuk menjadikan pekerjaan selaku PNS menjadi kerja akhirat sebaiknya setiap PNS menjadikan dirinya sebagai pelayan masyarakat dalam perbuatannya di tempat kerjanya masing-masing. Lalu setiap tindakannya diniatkan sebagai ibadah kepada Allah SWT. Sebaiknya dalam melakukan pekerjaannya sedapat mungkin mereka mencontoh sifat-sifat Rasulullah SAW atau mengikuti perintah-perintah Rasulullah SAW bagaimana seharusnya seorang pegawai yang telah digaji untuk melayani tuannya.

Oleh karena itu agar kerja seorang pegawai bisa bernilai ibadah disisi Allah SWT maka ada beberapa tip sederhana yang patut diperhatikan di bawah ini :

  1. Hendaknya setiap pegawai sebagai seorang muslim tetap ikhlas mengamalkan ajaran agamanya sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Maksudnya marilah kita mengamalkan Rukun Islam sesuai dengan kewajiban kita. Dalam mengamalkan rukun Islam itu hendaklah kita menghadirkan keagungan Allah SWT sesuai dengan keagungan-Nya sambil mengikuti tata caranya sesuai dengan Sunnah Nabi-Nya. Jangan pernah ada pegawai kelihatan tekun bekerja di kantor tetapi meninggalkan shalat lima waktu. Kalau ini terjadi maka sungguh seluruh amalan kita selaku pelayanan masyarakat akan hampa di sisi Allah SWT. Dengan kata lain seluruh gaji yang kita terima sebagai pegawai akan tidak berberkah sehingga kita selalu merasakan berbagai kesempitan dalam urusan hidup kita.

  1. Hendaknya pula kita tetap tekun, amanah, jujur, dan mengerahkan keahlian kita dengan tulus untuk melayani masyarakat yang membutuhkan kita. Kita ada karena mareka. Masyarakatlah sebagai subjek dan objek pelayanan kita. Jadi jangan ada ogah-ogahan dalam pelayanan. Kalau lagi mood yaa rajin kerja kalau lagi males yaa lalai bekerja.

  1. Hendaknya setiap pegawai ketika bertugas di tempat kerja merasakan bahwa apapun dilakukan senantiasa diniatkan sebagai wujud kebaktian kepada Allah SWT. Sehingga di dalam melaksanakan tugasnya ia berusaha melakukan dengan cara yang terbaik atau dalam bahasa agama disebut dengan ahsanun amalan . Dalam hal ini Nabi SAW menganjurkan kalau kita mengerjakan sesuatu hendaklah dilakukan dengan cara yang terbaik . Itulah disebut dengan ikhsan.

  1. Untuk bekerja dengan sebaik-baiknya maka ada beberapa indikator yang perlu diperhatikan dan diamalkan :

a. Pegawai hendaknya menguasai pekerjaan tersebut. Dengan kata lain ia memiliki standar sertifikasi bahwa memang dia sanggup dan terampil melakukan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya.

b. Patuh terhadap prosedur standar yang telah ditetapkan seperti waktu penyelesaian, hemat biaya, tidak menyulitkan, syarat-syaratnya tidak dibuat-buat, dan transparan.

c. Sikap pelayan yang ramah, jujur, sopan, dan menyenangkan.

  1. Semua hal-hal di atas hendaknya dilakukan dengan penuh harap untuk meraih

ridho Allah SWT.

Kamis, Desember 03, 2009

Bertanyalah ( AKKUTAANAKI)



Din Rahimi


Kultur bertanya tentu saja tidak akan pernah ada pada dunia hewan atau tumbuh-tumbuhan. Demikian sejauh yang dapat kita amati. Hanyalah manusia patut bertanya kepada dirinya sendiri atau kepada diri yang lain. Sebab Allah SWT telah memasang perangkat lunak bernama akal dalam diri manusia sehingga manusia dapat memiliki kemampuan bertanya. Salah satu pertanyaan yang patut adalah siapakah yang memprogramkan kita sehingga terlahir dan hidup di dunia. Tentulah jawabnya adalah Allah SWT. Demikian jawaban seorang Manusia Muslim.

Jawaban tersebut memiliki makna bahwa manusia terlahir dan hidup di dunia bukan karena program para Ahli, semisal Ahli Biologi, Ahli Kimia, atau Ahli lainnya. Sekali lagi bukan. Oleh karena itu sebagai manusia yang berakal sudah sepatutnya pula kita bertanya :

1. Apa maunya Allah kepada kita ?

2. Apa yang patut kita kerjakan di dunia ini menurut Allah.

3. Kemanakah akhir perjalanan akhir manusia ini menurut Allah ?

4. Apa bekal yang benar dan baik menuju ke sana menurut Allah?

Bukan malah sebaliknya, kita bertanya:

1. Apa mau kita kepada Allah ?

2. Apa yang patut kita keerjakan di dunia ini menurut diri nafsu kita.

3. Kemanakah akhir perjalanan akhir manusia ini menurut nafsu kita ?

4. Apa bekal yang benar dan baik menuju ke sana menurut nafsu kita ?

Demikianlah sebaiknya seorang Muslim yang berkarakter surga. Dari pertanyaan tersebut diharapkan mereka bertingkah laku benar, baik, dan indah menurut pandangan Allah SWT.