Oleh : Dinrahimi
Beberapa waktu lalu saya bersama istri berkunjung / bersilaturrahim dengan seorang keluarga di Perumahan Bulurokeng Permai Blok B2/ No 7 Makassar. Saya agak kaget ketika bertemu dengan keluarga tersebut. Beliau tampak hitam tapi pucat. Agaknya beliau menderita penyakit Leukimia. Sebuah penyakit yang belum ditemukan obatnya oleh dokter. Keluarga saya tersebut seorang sarajan Ilmu Gizi dan suaminya sendiri seorang dokter spesialis anak. Alhamdulillah Allah SWT memberikan anugrah kepadanya dengan pekerjaan dan penghasilan yang layak. Beliau beserta suaminya bertugas di rumah sakit dan di rumahnya ia membuka praktek. Dengan pekerjaan itu agaknya masalah keuangan tidak lagi menjadi masalah. Beliau bisa membeli rumah, mobil, dan keperluan lainnya.
Beliau berniat untuk menunaikan Rukun Islam ke Lima – Haji – di Baitullah Mekah. Meskipun dia sakit dia bertekad untuk tetap menunaikan rukun islam yang kelima itu. Memang beliau termasuk orang yang baik, insya Allah. Hal itu saya katakan setelah mengenal beliau sejak tahun 70 an sampai hari ini. Bukan hanya karena beliau sering membantu saya kalau anak saya sakit dengan gratis dan bukan juga karena mengurus kemanakan saya bekerja sebagai bidan rumah sakit tetapi karena memang beliau diakui oleh banyak orang bahwa beliau itu tidak sombong, suka membantu, bersahaja, tekun, dan taat ibadah.
Terbukti beberapa waktu kemudian anak Nabi Adam benar-benar memulai pertumpahan darah, ketika Sang Kakak membunuh Sang Adik.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.s. asy-Syarh: 5-6).
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam ayat ini, apa pun bentuk masalah, kesulitan, dan penderitaan yang dialami seseorang atau bagaimanapun situasi yang dihadapi, Allah menciptakan sebuah jalan keluar dan memberikan kemudahan kepada orang-orang yang beriman. Sesungguhnya, orang yang beriman akan menyaksikan bahwa Allah memberikan kemudahan di dalam semua kesulitan jika ia tetap istiqamah dalam kesabarannya. Dalam ayat lainnya, Allah telah memberi kabar gembira berupa petunjuk dan rahmat kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya:
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (Q.s. ath-Thalaq: 2-3).
Betawakal kepada Allah artinya menggantungkan diri kepadaNya karena menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ada di bawah kendalinya, serta merasa yakin bahwa tak seorang pun dapat menolong atau mencelakakan orang lain tanpa seijinNya. Orang-orang beriman mengetahui bahwa Allah Mahakuasa, dan segala yang dikehendakiNya akan terjadi hanya dengan mengatakan “Jadilah!”. Mereka pun tak pernah tawar hati dalam menghadapi kesulitan. Mereka tahu bahwa Allah akan menolong mereka, dan yakin bahwa Allah akan memberikan kemudahan di dunia ini dan di akhirat kelak. Menyadari hal itu, hati mereka selalu tentram dan gembira.
Yang harus dilakukan seseorang yang beriman hanyalah merespons segala kejadian dengan perbuatan yang disukai Allah, dan menanti hasilnya sesuai kehendakNya.
Berdasarkan uraian tersebut maka tidaklah ada guna menghindari masalah yang menimpa kita tetapi lebih baik kita atasi masalah itu tips berikut :
1. Sadari sepenunya masalah itu
2. Deskripsikan dengan jelas masalah itu, semakin detail semakin bagus
3. Buatlah beberapa alternative jalan keluar dari masalah itu
4. Tempuhlah salah satu alternative setelah do’a istikharah kepada Allah SWT.
5. Tetaplah buat alternatif penyelesaian A,B, C, dan seterusnya . Cobalah alternatif berikutnya bila alternatif sebelumnya belum berhasil.
6. Tetaplah berserah diri kepada Allah Yang Maha Bijak dan Maha Kasih terhadap keputusan dan hasil yang kita peroleh.
7. Sadari sepenuhnya bahwa apapun yang terjadi pada diri kita, yang terpenting adalah hidup kita diridhoi Allah yang Maha Agung.
Sekian apa yang dapat saya tulis untuk kali ini. Semoga ada mamfaatnya.