Jumat, Maret 13, 2009

Berpakaian Telanjang dan Ketelanjangan Budaya

Drs. Takuddin Rahimi


Tanggal 18/5/2008 saya pergi cukur rambut bersama kedua anak lelaki saya Fauzan (11 tahun) dan Haedar (7 tahun) . Setelah Fauzan cukur rambut Uminya membuka bajunya untuk membersihkan sisa-sisa rambut yang menempel di badanya. Saat Fauzan buka baju saya buka pintu salon. Segera Fauzan menutup pintu salon itu. Lalu Fauzan berargumen malu dilihat orang banyak. Yaa memang banyak orang di situ sebab memang salon ini berada di pasar bulu-bulu Maros. Seorang anak kecil lelaki malu telanjang dada di depan orang banyak ? Apakah ini fitrah, inikah nurani manusia sebagai bibit awal rasa malu itu ?

I. Pendahuluan

Beberapa tahun yang lalu ada sebuah peristiwa yang menghebohkan masyarakat, yakni seorang artis cantik Indonesia Sophia Lacuba berpose telanjang. Masyarakat, khususnya bagi yang peduli menanggapi dengan serius. Koran jadi ramai, radio jadi ribut, dan televisi pun tambah semarak. Hampir semua media menayangkan tentang peristiwa yang menghebohkan itu.
Para pemerhati MORAL BANGSA bangkit mengritik perbuatan Sophia Lacuba yang berpose telanjang. Seingat saya , mereka marah dan mengritik karena mereka beranggapan Sophia Lacuba telah menodai bangsa Indonesia yang menjujung tinggi nilai susila - nilai budaya bangsa Indonesia yang luhur.
Sebenarnya apa yang dilakukan Sophia Lacuba hanyalah sebuah sampel yang mewakili sekolompok populasi masyarakat Indonesia yang setuju dan memang berpakaian telanjang diera global ini. Sophia Lacuba dan yang sependapat dengannya berargumentasi bahwa apa yang dia lakukan sesungguhnya adalah ekspresi seni. Yaa art for art, seni untuk seni.
Seni terindah bagi penganut pemahaman tersebut adalah tubuh wanita itu sendiri. Saking indahnya tubuh wanita maka lelaki setegar singa pun akan takluk di depannya ketika disodorkan karya seni yang super indah ini. Melihat tubuh wanita telanjang dengan pose sedemikian rupa maka dapat dijamin bahwa seorang lelaki normal akan terpaku dengan seribu macam rasa yang membuat kelenjar kelaki-lakian menjadi panas dan cenderung akan menjadi liar.
Tetapi kalau hal itupun terjadi maka dengan segera Agnes Monica pada suatu waktu di media TV, ketika ia dengan teman-temannya yang sepaham menolak Undang-Undang Pornographi mengatakan kurang lebih demikian bahwa lelaki yang terangsang melihat tubuh wanita setengah telanjang atau telanjang adalah lelaki yang berfikiran kotor atau cabul sebab soal terangsang atau tidak bukan soal telanjang, buktinya di Arab juga lelaki itu nakal padahal perempuannya pakai cadar, demikian ungkapan yang saya sempat ingat. Saya tidak persoalkan apa kata Agnes sebab memang dia adalah artis yang memang memperoleh uang sebagai selebriti yang salah satu syaratnya adalah pada umunya membuka aurat. Maksud saya sangat wajar dia berfikir begitu karena dia bukan seorang psikolog, dia bukan ahli biologi, dan dia bukan seorang ilmuan semacamnya yang memahami seluk beluk manusia baik secara fisik maupun secara psikis yang menghantarkan pemahamannya kepada kemashlahatan hidup manusia secara luas.
Dengan argumen Sophia Lacuba, Agnes Monica, dan juga tidak sedikit orang yang sepaham dengannya maka budaya berpakaian tetapi telanjang atau memang telanjang, baik telanjang setengah-setengah atau telanjang bulat-bulat semakin berkembang di tanah air bangsa Indonesia ini yang dikenal sebagai bangsa timur yang menjunjung tinggi nilai-nilai susila keagamaan. Kita menyaksikan rangkaian untaian perilaku berpenampilan dan bergoyang seronok sebagaimana kata orang melayu. Kita menyaksikan goyangan ngebor Inul, penampilan dan goyangan gergaji Dewi Persik, dan terakhir ini penampilan dan perilaku seronok dari Julia Peres. Yaa semua itu dilakukan dengan argumentasi kebebasan ekspresis seni, sekali lagi art for art. Meskipun argumen ini juga sudah telajang dari maksudnya sebab bukankah dengan amat gampang kita membaca bahwa semua itu juga telanjang demi uang atau art for money.
Kebetulan atau tidak kebetulan bangsa Indonesia mayoritas beragama Islam yang tentu saja berpenampilan telanjang itu menjadi salah satu pelanggaran susila terbesar menurut ajaran agama ini sebagai Standar Operating Prosedure (SOP) dari Allah swt. dalam melakoni hidup sejenak di dunia ini

II. Ideologi itu Pangkalnya

Jadi apa yang kita saksikan di atas tadi adalah fakta dan data bahwa memang setiap perilaku itu tampaknya bersumber dari ide-ide yang tertanam dalam sanubari, otak, dan sel-sel tulang belakang penganutnya. Mengapa orang berpakaian tetapi telanjang atau memang berpenampilan telanjang karena mereka beride bahwa telanjang itu bukan soal moral susila, bukan soal pelanggaran nilai utama budaya bangsa, dan bukan pula soal nilai utama dalam ajaran suatu agama. Telanjang itu soal seni. Yaa telanjang itu soal keindahan. Jadi sekali lagi tolong jangan dikaitkan dengan yang lain. Kecuali yang berkait dengannya, misalnya soal ekonomi, soal ketenaran, soal kebebasan itu sendiri.
Dengan kata lain nilai budaya bersumber dari ide-ide yang berkembang diakui atau tidak akan membawa perkembangan bangsa sesuai dengan nilai budaya itu. Meskipun nanti pada akhirnya kita akan baru mengetahui bahwa nilai budaya yang berkembang ini secara emperis salah, keliru, atau sesat setelah kita merasakan akibatnya. Misalnya saja berpenampilan telanjang dengan segala kaitan yang ada padanya, baik ideologinya, pribadi pelakunya, sarananya, produk budaya yang tercipta dengannya mengakibatkan tumbuh suburnya perzinahan. Lalu perzinahan itu sendiri menimbulkan multidampak antara lain :

1. perilaku hidup boros yang juga berbahaya;
2. goyahnya sendi-sendi keharmonisan rumah tangga akibat munculnya penyakit perselingkuhan yang akan menciptakan generasi kacau, lemah secara psikis dan intelektual.
3. timbul penyakit –penyakit amat sangat berbahaya seperti AIDS.
4. terbuang-buangnya waktu yang mulia; dan
5. kegelisahan batin yang akan menimbulkan psikosomatik lainnya.

III. Wanita Mulia berpakaian Mulia

Menurut catatan sejarah yang sempat saya baca dari berbagai media, khususnya Ensiklopedia, ditemukan fakta bahwa orang-orang bangsawan pada abad-abad yang lampau seperti yang ada di Inggeris memakai pakaian yang anggun, tertutup, panjang, dan tidak telanjang khususnya ketika mereka berada ditengah orang-orang banyak. Bahkan saking tertutup dan panjangnya pakaian itu sebagiannya terseret di tanah. Mereka menyadari diri mereka bahwa mereka bangsawan yang dipandang mulia menurut masyarakat yang menganut sistem feodal waktu itu. Oleh karena itu mereka juga harus memperhatikan penampilan mereka khususnya dalam berpakaian sesuai dengan derajat kebangsawanan mereka yang dimuliakan.
Menurut budaya mereka sepakat bahwa pakaian yang cocok dengan perempuan bangsawan adalah pakaian mulia pula yakni berpenampilan anggun, serasi, nyaman, indah, dan dengan cirri khas menutupi seluruh tubuh meskipun dengan gaya, model, dan corak yang bervariasi.
Oleh karena itu di zaman itu orang-orang akan mengenal ketika perempuan itu hadir di sebuah tempat. Oh itu pasti perempuan mulia , oh itu pasti perempuan bangsawan. Bahaya, jangan coba-coba berbuat jahil padanya. Jangan coba-coba bersiul padanya, jangan ganggu, dan jangan goda. Perempuan itu kelihatan sopan, anggun, serasi, penuh pesona yang mugkin sekarang seperti tokoh Aisyah dalam film Ayat-Ayat cinta atau Khumaerah dalam Sinetron Munajah Cinta. Sungguh perempuan yang penuh keindahan, pesona, tetapi tidak menimbulkan gejolak syahwat yang liar melainkan kekaguman, keteduhan, kenyamanan, dan keharmonisan ciptaan Tuhan.
Begitulah pada zaman itu, kalau ada perempuan berpenampilan telanjang, maka sudah sama-sama paham tanpa perdebatan lagi masyarakat keseluruhan akan mengatakan itu oh itu budak, itu perempuan non-bangswan, oh itu penari istana, oh itu budak yang disewakan untuk menyanyi menghibur kita-kita. Yaa kira-kira seperti itulah.
Mirip dengan kasus di atas dalam sejarah Islam disebutkan sebuah riwayat oleh Ibnu Sa’d dalam at-Thabaqat yang bersumber dari Abi Malik bahwa suatu malam isteri –isteri Rasulullah Nabi Muhammad saw. pernah keluar malam untuk qadla hajat ( buang air). Pada waktu itu kaum munafiqin mengganggu dan menyakiti mereka. Kemudian peristiwa tadi diadukan kepada Rasulullah saw, sehingga Rasullah saw. menegur kaum munafiqin. Lantas orang munafik menjawab: “Kami hanya mengganggu hamba sahaya”. Maka turunlah al-Qur’an, Surah Al-Ahzab (33), ayat 59 sebagai perintah untuk berpakaian tertutup, agar mereka berbeda dari hamba sahaya. : “.Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya] ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S.33:59).

Sepotong kisah tersebut mempertebal keyakinan kita bahwa pada zaman abad ke-6 M dimana Nabi Muhammad SAW hidup waktu itu, juga sudah terbentuk suatu budaya peradaban bangsa di Timur Tengah, baik mereka yang beragama Islam, Yahudi, mapun Nasrani bahwa wanita mulia berpakaian mulia dan wanita rendahan berpakaian rendahan pula yang ciri-cirinya berpenampilan setengah telanjang atau telanjang.

IV. Mengapa Manusia butuh Pakaian ?

Mengapa manusia mesti berpakaian ? Mengapa hewan tak berpakaian ? Jawabnya karena manusia itu manusia hewan itu hewan. Kata lain hewan tak perlu berpakaian sebab memang hewan tidak berbudaya dan tidak berperadaban sebab mereka tidak memiliki akal untuk membangun sebuah peradaban. Hewan adalah bagian dari materi yang menjadi unsur pembangun peradaban yang dilakukan oleh manusia. Manusia itu makhluk yang berfikir, manusia mahluk yang berbudaya . Dengan kata lain manusia disebut manusia karena manusia berperilaku manusia dan hewan disebut hewan sebab hewan memiliki syarat untuk disebut hewan. Jadi kemampuan berperilaku dan memang berperilaku seperti sesuatu itu maka sesuatu itu disebut seperti itu. Mengapakah kucing disebut kucing dan tidak disebut anjing ? Karena kucing memiliki segala persyaratan untuk menjadi kucing dan kucing memang berperilaku kucing. Kalau ada kucing tiba-tiba menggonggong dan tidak mengeong maka tentulah orang-orang mengatakan itu kucing aneh, kucing jadi-jadian , kucing tidak normal, atau ia bukan lagi kucing seutuhnya.
Salah satu ciri perilaku manusia normal itu membutuhkan perlidungan badan dari hawa dingin, panas, dan cuaca lainnya. Begitu pula manusia membutuhkan perlindungan dari rasa hina, minder, dan harga diri mereka sehingga mereka malu bila mereka telanjang. Oleh karena itulah mereka berpakaian. Manusia yang tidak berpakaian atau berpenampilan telanjang biasa disebut manusia berbudaya primitif, seperti sebagian manusia di Irian Jaya dahulu.
Menurut para peneliti dari berbagai bidang studi menemukan bukti bahwa dengan berpakaian itu manusia memenuhi tiga kebutuhan hidupnya antara lain : (1) pakaian melindungi manusia dari unsur-unsur seperti sinar matahari, salju, hujan, dan lain-lain; (2) menjaga sopan santun; dan (3) memperindah diri serta menjaga martabatnya sehingga manusia terhindar dari rasa minder, rendah, dan hina dalam pergaulan sehari-hari.
Itulah sebanya terkadang seorang yang memiliki citra diri yang tinggi akan memilih pakaian yang pantas sesuai dengan tempat dan waktu di mana mereka berada. Saya ingat sebuah ungkapan Imam Al-Gazali bahwa dari sekian macam belanja ada yang dinamakan belanja kesatria, antara lain kita membeli pakaian yang dengan memakainya orang aka menghargai kita selayaknya.
Mungkin anda pernah mendengar cerita di mana seseorang datang ke pesta tetapi tidak dijemput dan dilayani selayaknya karena pakaiannya jelek. Tetapi ketika dia pulang dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang bagus maka orang-orang menjemputnya dan melayaninya dengan layak.
Dalam sejarah dikisahkan konon ketika Nabi Adam dan Hawa memakan buah terlarang dalam Surga maka segera aurat mereka terbuka sehingga mereka malu. Untuk menutupi auratnya itu Nabi Adam dan Hawa mengambil dedaunan untuk menutupinya
Melalui kajian sejarah ditemukan bahwa semakin tinggi budaya suatu bangsa sesungguhnya semakin sopan pula tata berpakaiannya. Tentu saja peradaban yang dimaksud di sini adalah bukan peradaban yang berideologi materil semata yang telah melahirkan kepincangan hidup seperti kita rasakan hari ini.


V. Ketelanjangan Budaya

Tadi sudah dijelaskan bahwa pakaian itu berfungsi untuk melindungi badan dari ketelanjangan, bukan justru pakaian membuat telanjang manusia. Dalam tataran fisik memang sudah cukup bila manusia itu berpakaian untuk melindugi tubuhnya dengan pakaian yang sopan, rapi, nyaman, dan menutup aurat atau kehormatan diri. Tetapi dalam kehidupan ini ternyata masih banyak elemen lain yang perlu kita lindungi salah satu diantarannya adalah tata kehidupan kita yang terpantul dalam budaya dan peradaban yang kita bangun. Budaya dan peradaban manusia juga tidak boleh seronok atau telanjang. Budaya juga perlu pakaian. Bila budaya dan peradaban manusia telanjang maka manusia akan malu pula sebagaiaman juga manusia akan malu berjalan di tengah pasar dengan telanjang. Di saat seperti itu telah terjadi ketelanjangan budaya.
Yang saya maksud ketelanjangan budaya adalah budaya kita lepas dari sifat-sifat luhur yang dapat mengangkat harkat martabat bangsa dari keterpurukan saat ini. Bangsa kita saat ini mengalami ketelanjangan budaya dari pakaian berupa sifat luhur seperti rasa malu, jujur, berani, cinta bangsa, cerdas, hemat, pengasih, pantang menyerah, dan adil, dan seperangkat karakter luhur lainnya.
Di bawah ini saya akan kutipkan beberapa karakter bangsa yang menunjukkan ketelanjangan budaya yakni beberapa ciri-ciri perilaku bangsa Indonesia yang ditulis Bung Mukhtar Lubis ( 1977) dalam bukunya yang kontroversial “Manusia Indonesia” (Sebuah Pertanggungjawaban) antara lain ;

1. Munafik. Contoh yang relevan yakni lain di hati lain pula di mulut. Tidak konsistennya antara perkataan dan perbuatan. Apabila berkata bohong, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya khianat.
Perilaku manusia Indonesia sulit dipahami. Sering mempromosikan sebagai bangsa yang ramah, tetapi mudah marah; mengaku kaya raya, tetapi miskin; mengaku relgius, tetapi sering tidak religius (KKN); mengaku negara hukum tetapi suka melanggar hukum (contoh kecil : berlalulintas); janji datang tetapi ingkar; mau modern, tetapi ke dukun. Tidak mengatakan tidak jika memang tidak. Tidak mengatakan ya jika memang ya. Kita sering berada antara ya dan tidak. Kita sering bersifat ganda (ambivalen). Banyak ungkapan paradoksal dalam budaya kita. Misalnya, pantun Sunda, “teras kangkung galeuh bitung” ( inti bamboo adalah inti batang kangkung). Di Cerebon ada ungkapan, “galih kangkung” ( batang kangkung itu, isinya kosong). Ungkapan lain, “kakak adiknya si bungsu, si cebol meraih bulan, si buta menghitung bintang, ngono ya ngono tapi ojo ngono” ( Begitu ya begitu tapi jangan begitu). Sikap ganda kita sudah tua dan berakar pada budaya.

Seorang raja harus dapat mengharmoniskan delapan kepemimpinan Hastabrata yang bertentangan satu sama lainnya. Seorang raja harus berwatak air, tetapi juga api, berwatak bumi, tetapi juga matahari, berwatak bintang (memberi petunjuk), tetapi juga samudra ( minta masukan). Pawang pun paradoks, bisa menyembuhkan si sakit dan bisa membunuh si sehat (santet). Kita juga diam, bahkan tidak berdaya membiarkan pengusaha membangun tempat maksiat seperti perjudian, pelacuran, dan sebagainya serta menarik pajaknya untuk pembangunan termasuk pembangunan tempat – tempat ibadah dan pendidikan. Hal yang lebih parah adalah menggunakan uang hasil korupsi untuk menyekolahkan anak-anaknya dan membelanjakannya demi kepentingan agama, misalnya naik haji, umroh, menyumbang sekolah, menyumbang mesjid, membayar zakat, memberi zedekah kepada fakir miskin, memberi zedekah pada anak yatim piatu dan sebagainya.

2. Segan dan enggan bertanggung jawab. Contoh Jika terjadi kegagalan terhadap dirinya, manusia Indonesia cenderung melemparkan kegagalan itu sebagai akibat perbuatan orang lain. Coba perhatikan kalimat berikut ini, saya tertusuk paku. Di sini manusia merasa menjadi korban dan paku menjadi agen pelaku. Padahal kalau saja paku bisa bicara maka tentu paku akan berkata pula : “Manusia sedang menginjak-injak saya ketika saya sedang terbaring merinntih karena mendertia penyakit berkarat setelah manusia membuang di saat saya dianggap tak berguna lagi.”
Di jepang, seorang menteri dengan sportif akan mundur jika ternyata gagal dalam menjalankan tugasnya. Pejabat di Indonesia justru cenderung menyalahkan rakyatnya. Sebagai contoh harga BBM dalam negeri terlalu murah karena subsidi dibanding harga minya dunia, tetapi mereka lupa membandingkan daya beli dan penghasilan orang luar negeri dengan dalam negeri.
3. Feodal. Contohnya bangsa kita terutama pejabat minta dilayani daripada melayani. Mengangkat pembantu sebanyak-banyaknya agatr semakin banyak yang menghormati.
4. Masih percaya tahyul. Contohnya, suka menonton penayangan film horror dan dunia lain. Mengaku moderen tetapi masih sering pergi ke dukun untuk berbagai keperluan.
5. Punya watak lemah. Contohnya, mudah dipaksa berubah keyakinannya demi kelangsungan hidupnya, mudah berubah pikirannya. Watak lemah ini erat kaitannya dengan mental munafik tadi.
6. Senang bernostalgia. Contoh : Ternyata lebih enak hidup di zaman orde baru ketimbang di era reformasi ini.
7. Cepat marah. Contohnya, hampir tiap hari kita saksiskan di tv terjadi kemarahan para demonstran. Tawuran antara mahasiswa biasa menjadi pemandangan biasa. Sedikit tersinggung langsung bunuh orang.
8. Tukang lego. Contohnya, bangsa kita pandai menjual barang-banrang bekas. Biasanya untuk ganti model baru. Handphone selalu miodel baru, yang lama dilego. Sudah pandai mencari uang, harga diri dilego untuk mendapat kekuasaan, harga diri dilego untuk mendapat kekayaan.
9. Suka merek luar negeri demi gengsi. Manusia Indonesia lebih suka membeli produk-produk yang mahal harganya asalkan dari luar negeri daripada membeli produk dalam negeri meskipun mutunya lebih tinggi.
10. Pemalas. Contohnya, bangsa kita adalah bangsa yang santai, kurang menghargai waktu. Waktu digunakan berjam-jam untuk mengobrol bukan untuk kerja produktif baik dikantor maupun di tempat lain. Konon bangsa kita bangsa termalas nomor 3 di dunia.
11. Konsumtif. Setiap ada produk baru dan obralan pasti diserbu. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling banyak belanjanya di tanah suci dan Singapura.

Kemudian Koentjaranigrat (2004) menambahkan ciri sifat mentalitas bangsa Indonesia adalah (1) suka meremehkan mutu, (2) suka menerabas, (3) tidak percaya pada diri sendiri, (4) tidak berdisiplin murni, dan (5) suka mengabaikan tanggung jawab.

Dengan ketelanjangan budaya seperti tersebut, maka bangsa kita sedang menderita rasa malu, itupun kalau belum gila, akibat membuka pakaiannya. Kasus korupsi, pungutan liar, illegal logging, suap, birokrasi bertele-tele, perselingkuhan, kasus narkoba, dan berbagai penyakit sosial lainnya tampaknya belum menandakan adanya arus menurun, justru masih menunjukkan arus meningkat.
Dalam memperingati 100 tahun kebangkitan bangsa justru bangsa Indonesia tampaknya mengalami masa sekarat “kebangkrutan”. Sehingga Rahman Arge di Fajar Minggu, 18 Mei 2008, menulis “Indonesia for Sale”. Konon tulisan itu tercatat dalam kilasan media cetak asing. Sehingga Bung Rahman Arge kembali menyemangati kita dengan semangat yang pernah dimiliki putra bangsa ‘the Founder nation” Bung Karno yang berteriak di Istananya : “Di mana dadamu ? Ini Dadaku.’ Ini harga diri bangsa yang besar. Menurut Rahman Arge meskipun kita ini sedang terpuruk tetapi jangan menjual harga diri dengan memelas atau meminta-minta di depan bangsa Asing yang tetap berjiwa colonial dan imperialis itu.
Yaa saya tidak sependapat dengan Bung Rahman Arge karena memang saya masih segan memakai kata sependapat dengan seorang penulis besar yang berpikiran besar dan berkomitmen tinggi untuk memberikan pakaian kehormatan kepada budaya bangsa yang sedang telanjang ini. Jadi saya hanya mengatakan saya ikut dengan petunjuk beliau tentang petuah beliau di atas. Sayapun belum juga mengerti apakah juga saya telah ada di dalam lingkaran ketelanjangan budaya itu atau tidak ? Saya masih sedang mencari.


VI. Wahai Pelacur Berkumpullah

Kalau tidak salah ingat pernyataan tersebut adalah sepotong dari puisi karya Bung Rendra sang Burung Merak. Yaa, beliau memanggil dengan sungguh-sungguh memanggil para pelacur




Jakarta agar segera berkumpul adakan musyawarah mufakat. Siapakah itu para pelacur ? Mereka itu para birokrat, konglomerat, legislator dan terkait dengan mereka dalam menggorogoti bangsa ini melebihi tikus-tikus menggorogoti padi petani di malam hari.
Pelacur itu adalah mereka-mereka yang telah membuang seluruh pakaian malunya, siri’na, pecce-nya, rasa kasih sayangnya sesama anak bangsa, dan pakaian luhur lainnya sehingga kini mereka bertelanjang gentayangan laksana hantu-hantu di malam hari menggorogoti bangsa ini sampai sekarat-karatnya. Dengan budaya telanjang tampaklah anak bangsa kita berkarakter rakus, malas, bodoh, tak cinta bangsa, tak kenal rasa malu, individual, munafik, mental menerabas, dan aji mumpung. Mereka yang seharusnya memagari bangsa ini dari keterpurukan dan melindungi bangsa ini dari tipuan bangsa asing, justru mereka laksana pagar makan tanaman. Mereka justru menjual bangsa Indonesia ke bangsa lain dengan dalih demi Penanaman Modal Asing (PMA)
Bukti-bukti dari pernyataan tersebut sungguh selalu termuat dalam koran-koran yang terbit setiap hari. Begitu pula bila kita menghidupkan radio dan televise maka dijamin bahwa salah satu isi beritanya adalah korupsi, suap, illegal logging, `penyeludupan, dan semacamnya.

Pada tanggal 18 Mei 2008 tahun lalu saya menonton Televisi siaran RCTI, saya mengikuti siaran berita tentang wafatnya seorang idealis Sophan Sophian. Pada saat itu saya ingat salah satu pernyataan yang menghentak dadaku yaitu pernyataan Slamet Raharjo seorang aktor kawakan seangkatan dengan almarhum, beliau mengatakan : “Salah satu kesalahan almarhum Sophan Sophian adalah beliau terlau jujur ditengah-tengah bangsa yang tidak karu-karuan ini.” Saya pahami bahwa Bung Slamet Raharjo itu mencoba memberikan ungkapan sarkasme mengenai bangsa besar yang lagi sakit ini.
Salah satu bukti ketidakkaru-karuan itu adalah ketika Sophia Lacuba mendapat kritikan dari berbagai kalangan tentang perilakunya berpose telanjang yang dianggap sangat memalukan dan sangat melanggar moral susila tiba-tiba dengan berani berdiri tegak dan berbalik menohok para pengkritiknya termasuk saya. Sophia Lacuba bertanya balik : “Moral ? adakah moral dalam kehidupan bangsa kita ini ? Ketika itu saya tertunduk malu sendiri dengan pertanyaan ini? 100 % tetap saya tidak dapat membenarkan anak bangsaku berpenampilan telanjang atau tetap saya tidak setuju dengan perilaku yang ditunjukkan oleh Sophia Lacuba dan orang-orang yang sepaham dengannya tetapi di sisi lain dari sisi persoalan tata nilai budaya memang patut juga kembali mendengarkan merenungkan pertanyaan Sophia Lacuba yang mengakui dirinya sebagai anak bangsa yang memang tak bermoral sebagaimana saya dan juga para pengritiknya tak bermoral pula pada sisi lain dari kehidupan yang mulia ini. Yaa kita sama-sama telah hanyut dalam ketelanjangan budaya. Kita telah membuka seluruh pakaian kemulian kita. Kita telah membuka pakaian malu, pakaian cinta kasih, pakaian keadilan, pakaian kebenaran, dan pakaian keberanian kita. Sehingga seorang Guru Bangsa Bapak Prof. Dr. H. Amin Rais harus berteriak lantang : ”Selamatkan Indonesia”.
Pada saat itu maka betullah apa yang dinyatakan oleh Bung Slamet Raharjo : “ bahwa kesalahan Almarhum Bung Sophan Sopian adalah ia berlaku terlalu jujur ditengah-tengah bangasa yang tidak karu-karuang ini.
Pada saat seperti ini betullah pertanyaan seorang kawan bahwa sulit kita bedakan manakah si Salah dan manakah si Shaleh, manakah tau (manusia) dan manakah tai (kotoran manusia).
Pada saat seperti ini betul juga ungkapan guru saya Prof. DR. Aris Munandar -Rektor Universitaas Negeri Makassar - bahwa sesungguhnya perbedaan benar dan salah adalah tergantung pada ketahuan dan tidak ketahuan. Kalau anda ketahuan maka anda salah dan kalau anda tidak ketahuan maka nada benar. Kalau anda lagi memegang sebuah proyek maka ketika anda terdeteksi dan ketahuan oleh petugas hukum maka anda menjadi tersangka sebagai koruptor tetapi bila anda pandai berlagak dan tidak ketahuan maka anda menjadi orang terhormat. Karena memang pada hakikatnya dari hulu sampai hilir anda sudah berbuat salah menurut norma agama, nilai budaya, dan aturan yang berlaku.
Kalau anda sebagai seorang suami ketahuan maka anda salah seperti halnya Yahya Zaini, karena memang anda lagi selingkuh tetapi kalau anda tidak ketahuan anda benar dan dihormati anak istri. Begitulah seterusnya
Sekali lagi para pelacur bangsa dipanggil untuk berkumpul bermufakat untuk bertaubat. Mereka diharapkan tolong jangan lagi telanjang yang merangsang napsu birahi. Tolong ambillah dan pakailah kembali pakaian warisan nenek moyang kita yang sopan, nyaman, serasi, dan menutupi ketelanjangan budaya kita dari sifat jelek itu. Jangan berbuat yang memalukan bangsa ini yang memang sudah tidak punya malu ini.
Ah anakku, engkau sentakkan jiwaku ketika engkau malu bertelanjang dada di depan orang banyak. Ah anakku engkau ingatkan aku ketika engkau merah wajahmu menahan malu ketika saya katakan bahwa engkau telah memakan kuenya orang yang belum sempat dibayar oleh Ambemu ( ayahmu)

VII. Penutup

Sesungguhnya setiap persoalan tentulah memiliki benih yang tumbuh kemudian berkembang dan membesar di atas tanah yang subur. Akarnya akan menghujam ke tanah dan pohonnya akan menjulang ke langit dengan daun yang lebat kemudian berbunga dan berbuah. Sesungguhnya buahnya pohon masalah yang kita setiap saat kita kecap setelah kita tanam benihnya beberapa waktu lamanya. Berikut ini marilah kita renungkan hal berikut ini :

1. Buah tanaman persoalan yang kita kecap sekarang adalah : (a). kelaparan dan (b) ketakutan
2. Buah tadi terbentuk dari bunga kecemasan, kegelisahan, kerisauan, keraguan, dan kegundahan.
3. Daunnya adalah ketiadaa ilmu atau kejahilan terhadap hakikat hidup
4. Batangnya adalah keserakahan dan kemalasan
5. Akarnya adalah terputusnya hubungan manusia dengan Tuhan Sang Pencipta atau pengingkaran terhadap nikmat Allah, yakni MANUSIA TAK MENGENAL ATAU LUPA TERHADAP SIAPA DIRINYA SESUNGGUHNYA.

Oleh karena itu menurut hemat saya kalau kita bersunguh-sungguh berkamuan dan bertekad tegas untuk mencari solusi sosio kultural dari persoalan-persoalan anak bangsa yang kita kecap sekarang maka inilah langkah-langkah yang saya sarankan

1. Manusia Indonesia semestinya kembali menerima baik atau ridha terhadap Dewata Sewa’e
2. Seluruh olah pikir olah batin, dan ola raganya yang termaktub dalam seluruh sistem budayanya mestilah bersandarkan pada cahaya Dewata Sewa’e yang sesungguhnya telah ada dalam hati manusia yang disebut cahaya atau suara hati yang suci. Kalau juga masih belum ketemu cobalah tengok kembali kitab suci, sabda nabi, nasehat para wali, nasehat leluhur dalam lontara, dan pesan-pesan orangtua. Di situ kita akan betemu nilai mutiara yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.
3. Manusia kembali merenungi hakikat kehidupan dunianya
4. Untuk itu kita perlu kembali mengikuti suri teladan manusia-manusia pilihan dalam setiap kurun waktu dan tempat di bumi ini sebagaimana yang ada dalam sejarah panjang tentang kehidupan manusia itu sendiri.
5. Dari situ nanti kita akan kembali merekonstruksi falsafah hidup yang harmonis dari manusia itu sendiri sehingga ia akan kembali menjadi manusia yang bijaksana, bertanggungjawab, berkeadilan, berkasih sayang, bekerjasama, peduli, dan berbagi antara sesama. Begitu pula manusia akan kembali menjadikan Tuhan yang Maha Esa sebagai pelabuhan terakhir dari kehidupannya di dunia ini. Sehingga seluruh tetebengek kehidupannya bersumber dari dan menuju kepada Tuhan Yang Maha Kasih.
6. Untuk itu semua, saya sepaham bahwa memulai kerja berat tersebut kita berangkat dari proses pendidikan baik di rumah, sekolah, dan lingkungan. Kerja ini perlu komitmen dari seluruh unsur terutama para orang-orang legislatif, eksekutif, yudikatif, para ulama, orang kaya, pemuda, mahasiswa, PNS, Militer , dam dari seluruh elemen bangsa yang besar ini.

Kapan itu ? Mulai detik ini, jangan lagi menunggu sebentar sore. Mulai saat ini kembali kita memurnikan niat kita, mempersegar ingatan kita, membajakan tekad kita untuk bangkit dari selimut kebodohan, kemalasan, keculasan, dan keserakahan kita. Insya Allah kalau hal tersebut dilakukan dengan konsisten maka kira-kira kita akan membutuhkan waktu kurang lebih 25 tahun proses kebangkitan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya kita wajib berjihad dengan jiwa dan harta untuk mencapai cita-cita mulia ini. Mulai sekarang dari diri dan keluarga sendiri. Kita bisa

Minggu, Maret 01, 2009

RAHASIA MENGAPA ALLAH TIDAK SEGERA MENYIKSA ORANG-ORANG KAFIR

Abu Rayhan Al-Biruni

Salah satu rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an adalah bahwa manusia tidak segera dibalas atas perbuatan buruk yang mereka lakukan, tetapi siksa tersebut ditang­guhkan hingga waktu tertentu. Hal ini dike­mukakan dalam ayat-ayat sebagai berikut:

“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia dise­babkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan mereka, sampai waktu tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Q.s. Fathir: 45).

“Dan Tuhanmulah Yang Maha Peng­am­pun lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung daripada­nya.” (Q.s. al-Kahfi: 58).

Bahwa banyak orang yang tidak segera dibalas atas perbuatan buruk mereka menye­babkan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan pernah diminta tanggung jawab atas perbuatan jahat mereka. Anggapan ini menyebabkan mereka tidak mau bertobat, merasa menyesal, dan memperbaiki kesalahan mereka. Di samping itu, hal tersebut semakin menambah keangkuhan mereka. Karena ter­jauh dari hikmah, mereka tidak dapat melihat bahwa apa yang mereka lakukan itu akan menyebabkan datangnya azab, bahkan azab ter­sebut semakin berat di akhirat kelak. Da­lam al-Qur’an, Allah menyatakan sebagai ber­ikut:

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tang­guh kepada mereka hanyalah supaya bertam­bah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Q.s. Ali Imran: 178).

Inilah penangguhan yang diberikan Allah untuk menguji manusia. Namun, tentu saja ada waktu yang telah ditetapkan Allah sehing­ga setiap orang akan dibalas atas apa yang mere­ka perbuat. Ketika waktu yang ditetap­kan ini tiba, maka waktu tersebut tidak dapat ditunda atau dipercepat, meskipun hanya sesaat. Allah memberi tahu kita bahwa setiap orang pasti akan memperoleh balasan:

“Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka.” (Q.s. Thaha: 129).

“Dan Aku tangguhkan mereka. Sesung­guh­nya rencana-Ku amat teguh.” (Q.s. al-A‘raf: 183).

Mengapa Orang-Orang Kafir

Oleh:Dinrahimi

Duhai Allah yang Maha Bijak seringkali hamba mendengarkan dari berbagai pihak mngapa orang-orang kafir terhadapmu justru tampaknya hidupnya makmur, sehat, dan kuat. Misalnya orang-orang kafir dikotaku tampaknya mereka kaya, makmur, dan sehat. Begitu pula orang-orang Barat yang hidup di seberang sana di Eropa, Amerika, Australia tampaknya mereka hidup mapan, cerdas, sehat, dan memiliki kemajauan teknologi yang demikian canggih. Demikianlah anggapan oirang-orang terhadap fakta-fakta ini.

Duhai Tuhanku, sesungguhnya rahasia dan hikmah apa yang ada dibalik semua ini ? Tak kurang pertanyaan ini sering melemahkan akal dan iman seseorang yang kurang cerdas untum memahami rahasia penciptaan-Mu.

Aku meyakini bahwa Engkau Maha Tahu dan Maha Bijak. Tentu saja semua masalah ini demikian kecil di sisi-Mu. Walaupun demikian masalah ini menjadi masalah besar di sisi Kami yang dhaif ini.

Duhai Allah yang Maha Rahim dengan nada yang mirip sama mereka mengatakan bahwa banyak manusia di dunia ini, meskipun tidak beriman kepada Allah, mereka menik­mati umur yang panjang, memiliki kekayaan yang tak terhitung banyaknya, memiliki kebun yang berbuah dan anak-anak yang sehat. Pada hal orang-orang seperti ini bukannya men­cari keridhaan Allah, tetapi semua karunia yang dinikmatinya tersebut justru menjauh­kan dirinya dari Allah. Orang-orang seperti ini menjalani kehidupannya yang panjang dengan mendurhakai Allah dan melakukan dosa setiap saat. Bahkan orang seperti ini berangapan bahwa apa yang mereka miliki itu merupakan kebaikan bagi mereka. Mereka terkadang menunjukkan bahwa dengan bukti kepemilikan harta yang melimpah itu justru menunjukkan bahwa cara hidupnya itu sudah benar. Dengan kata lain bagi orang yang tidak memiliki harta yang melimpah maka jalan hidupnya keliru atau menyimpan dari jalan Tuhan. Akibatnya ada diantara hamba-hamba-Mu tergoda juga untuk menempuh jalan mereka itu. Prinsip halal - hamramnya sebuah proses pencarian rezeki tidak lagi dipedulikan. Tak kurang diantara mereka lari ke tukang-tukang ramal, ke dukun-dukun, dan ada pula yang pergi ke sun gai-sungai, ke hutan-hutan dianggap angker membawa sesajen. Itu cara kuno yang masih bertahana sampai hari ini.

Cara lain yang ditempuh mereka membungakan uang dengan prinsip riba, melakukan korupsi, mendirikan hotel yang fungsinya sebagian menjadi rumah pelacur, mengembangkan tempat wisata tempat orang melakukan perzinaham.

Mengapa semua itu terjadi, yaa karena mereka menyangka bahwa kepemilikan kekayaan materil seperti harta benda, pangkat, umur panjang adalah ukuran standar kemajuan dan kebaikan. Apakah ini benar yang Tuhan ?

Namun, al-Qur’an mengingatkan kita tentang rahasia lain dan tujuan Allah di balik nikmat dan waktu yang diberikan kepada mereka:

“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keada­an kafir.” (Q.s. at-Taubah: 85).

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa Kami menang­guhkan mereka itu lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami menang­guhkan mereka hanyalah supaya bertam­bah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Q.s. Ali Imran: 178).

“Maka biarkanlah mereka dalam kesesat­annya sampai suatu waktu. Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu Kami ber­segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Q.s. al-Mu’minun: 54-6).

Sebagaimana dijelaskan dalam ayat terse­but, apa yang dimiliki orang-orang tersebut sesungguhnya bukanlah merupakan kebaikan bagi mereka. Waktu yang diberikan kepada mereka hanyalah untuk menambah dosa mereka. Ketika waktu yang diberikan kepada mereka sudah habis; kekayaan mereka, anak-anak mereka, atau kedudukan mereka, tidak dapat menyelamatkan mereka dari siksa yang pedih. Sesungguhnya, Allah telah menceri­takan keadaan umat-umat terdahulu yang hidup dengan kekayaannya dan harta yang melimpah, namun mereka ditimpa azab yang pedih:

“Berapa banyak umat yang telah Kami binasa­kan sebelum mereka , sedang mereka lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata.” (Q.s. Maryam: 74).

Ayat berikut ini menjelaskan alasan me­nga­pa orang-orang tersebut diberi perpan­jangan waktu:

“Katakanlah, ‘Barangsiapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pemurah memperpanjang tempo bagi­nya; sehingga apabila mereka telah me­lihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun Kiamat, maka mereka akan menge­tahui siapa yang lebih jelek keduduk­annya dan lebih lemah penolong-penolong­nya?” (Q.s. Maryam: 75).

Allah adalah Mahaadil dan Maha Penya­yang. Dia menciptakan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan kebaikan, dan setiap orang akan dibalas sepenuhnya atas apa yang mereka kerjakan. Menyadari hal ini, orang-orang yang beriman melihat berbagai peristiwa dengan maksud untuk melihat kebijaksanaan dan kebaikan yang diciptakan Allah dalam setiap peristiwa. Jika tidak, orang-orang akan menjalani hidupnya dengan tertipu dan jauh dari kenyataan.

Menjaga Kemashlahatan Agama

Abu Rayhan Al-Biruni

Suatu hari seorang kawan istri saya datang berkunjung ke rumah, sebut saja namanya Sardina. Umurnya 36 tahun. Ia lahir tahun 1971. Orangnya agak lincah, ramah, dan energik. Ia memiliki putra dua orang dimana anak pertamanya sekelas dengan anak saya yang ketiga di salah satu SDIT di Maros. Sardina membicarakan pengalaman masa lalunya yang ceria. Salah satu pengalamannya yang menarik adalah ketika dia dijodohkan dengan seorang pemuda beragama Kristen yang berniat masuk Islam sekiranya jadi nikah dengan Sardina . Ketika Sardina diberitahukan oleh keluarganya tentang rencana tersebut maka dengan tangkas Sardina mengatakan kepada keluarganya : “Saya tidak mau”. “Mengapa?” sanggah keluarganya. “Masalahnya agama saya saja pas-pasan, bagaimana bisa saya akan ajari orang untuk beragama dengan baik”. Demikianlah jawaban Sardina dengan terus terang.

Inilah pernyataan yang menarik. Agama saya pas-pasan”. Ini sebuah kesadaran dan pengakuan yang jujur. Untung saja Sardina berterus terang seperti itu. Bukan apa-apa sering terjadi seorang lelaki Kristen pindah ke agama Islam ketika hendak menikahi seorang gadis muslimah tetapi setelah mereka menikah ia kembali keagamanya semula dan keluar dari Islam. Bahkan tidak jarang dijumpai lelaki tadi mengajak dan cenderung menekan istirinya supaya ikut pula agamanya. Karena berada pada pihak yang lemah maka Isteri tanpa berfikir panjang dia korbankan dirinya untuk keluar dari agama Islam atau murtad. Padahal hal itu jelas-jelas membuat ia telah menjadi kafir.

Sebagai contoh ada seorang gadis yang saya kenal. Beliau berasal dari kampung saya, sebut saja namanya Eva. Eva pergi merantau ke Kalimantan ikut bersama keluarganya. Beberapa tahun kemudian Eva dinikahkan dengan seorang pegawai Pertamina di Kalimantan. Pada awalnya suaminya itu menyatakan diri memeluk agama Islam. Jadi mereka dinikahkan dengan cara Islam. Tetapi ketika Eva bersama suaminya pindah ke Bandung maka musibah aqidah pun terjadi. Atas dorongan sang Mertua sang Suami kembali ke agama semula yaitu Agama Nasrani. Bahkan hal itu tidak cuku tetapi juga menjadikan Eva juga turut memeluk agama Kristen. Kini mereka sudah memiliki beberapa anak yang semuanya beragama kristen.

Beberapa waktu lalu teman kantor saya bercerita bahwa ada seorang keluarganya juga mengalami hal yang sama dengan Eva. Dia kawin denga seorang lelaki dari Flores yang beragama Kristen dan mengaku memeluk agama Islam ketika menikahi gadis pujaannya itu. Namun setelah mereka menikah Lelaki tadi kembali ke agama semula dan menekan istrinya agar juga murtad dari agama Islam.

Sardina engkau telah selamat dari musibah aqidah. Selamat bagimu saudariku. engkau memang gadis yang tegar.

Yaa Allah Ya Rabbii, saya termenung membaca ayat-Mu mengenai larangan untuk menikahkan seorang gadis muslimah dengan lelaki kafir, musyrik, atau munafik sebagaimana tersebut di bawah ini :

: Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran(Q.S.2:221)