Oleh:Takuddin
Saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyadari dan memahami satu hal yakni: “Tidaklah Aku diutus kecuali memperbaiki akhlak yang rusak.”
Kalimat tersebut adalah sabda Rasulullah yang mulia. Pada awalnya saya tidak memahami kandungan nyata dari hadis tersebut.
Saya berfikir mengapa Rasulullah SAW tidak justru mengatakan yang lain dari tujuan pengutusannya sebagai Rasul, misalnya: Membangun negara adidaya seperti Amerika, mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, memperkuat sendi-sendi perekonomian, dan membangun politik bangsa dan ummat sebagaimana seluruh pemerintah negeri melakukan hal tersebut saat ini.
Barulah pada bulan ramadhan tahun 1426 H ketika saya berumur kurang lebih 40 tahun saya baru menyadari bahwa sungguh tepat sabda Rasul tersebut. Sebab mengenai urusan Ilmu dan Teknologi tidak perlu menjadi misi utama seorang Rasul. Pengembangan ilmu dan teknologi memang menjadi naluri hidup seorang manusia sesuai dengan pertumbuhan kebudayaan mereka. Jadi ada atau tidak adanya anjuran untuk itu maka manusia tetap akan menggarap bidang ini sebagai jawaban kebutuhan hidup mereka. Entah pengembangan itu bersumber dari nurani hati yang suci atau dari nafsu yang liar. Demikianlah pula urusan politik dan ekonomi yang lebih bersifat materialistis lagi tidak perlu diajarkan kepada manusia yang memang telah memiliki potensi itu sejak lahir. Urusan tersebut sama kedudukannya dengan naluri berenang seekor anak itik dan naluri memburu bagi seeokor anak singa yang akan dengan sendirinya berkembang pada saat mereka membutuhknnya.
Santriwati Pesantren muhammadiyah Darul Arqam makassar
Agaknya Rasul SAW dengan ketajaman dan kebeningan hatinya beliau telah menjangkau semua itu. Tentu saja semua dapat diperbuat oleh Rasulullah sebagai utusan Allah Yang maha Bijak. Demikianlah yang diakui oleh Rasulullah sendiri bahwa saya adalah manusia biasa yang diturunkan wahyu. Sungguh suatu kecerdasan yang indah lagi merendahkan hati disertai dengan kejujuran yang tiada bandingnya. Sebagai Rahmatan LilAlamin beliau dididik langsung oleh Allah Maha Pendidik. Hasilnya beliau menjadi manusia yang agung, manusia yang besar, dan makhluk termulia. Dalam berbagai ayat Allah menampakkan pujian-Nya kepada Rasul-Nya : Sesungguhnya engkau Muhammad berakhlak yang agung. Di manakah sesungguhnya letak keagungan akhlak Muhammad itu ?
Sesungguhnya mengakui sesuatu yang patut diakui adalah puncak kecerdasan dan puncak pencapaian peradaban kebudayaan manusia yang paling tinggi. Dan hal itulah yang telah dicapai oleh seorang Muhammad. Kecerdasan semacam itu adalah induknya akhlak yang paling mulia.
Akhlak mulia inilah dalam bahasa filsafat disebut dengan cara memperlakukan, cara diberlakukan, cara berbuat, cara beribadah muatan nilai, muatan perbuatan, dan muatan amalan. Akhlak tersebut bersemayam dalam hati manusia dan diterjemahkan oleh otak lalu otak menginstrksikan ke seluruh sel-sel tubuh termasuk anggota badan seperti pancan indera.
Ketika seorang gadis cantik mandi dalam kamar mandi maka sesungguhnya bisa saja seseorng lelaki mengintipnya, aplagi kalau gadis itu memang juga senang dintip. Tetapi pemuda tersebut boleh jadi tidak mengintipnya karena pengakuan atas dirinya terhadap tuntunan Ilahi, bahwa perbuatan mengintip itu
v Menurut ajaran allah SWT mengintip terlarang
v Menentang ajaran Allah SWT melampau batas kesopanan dan kewajaran
v Perbuatan mengintip itu sendiri perbuatan yang tercela bagi seorang pemuda terhormat
v Mengintip itu memalukan, sebab termasuk perbuatan kepengecutan
v Mengintip itu akan berlanjut kepada perzinahan.
v Perzinahan itu merusak tatanan peradaban manusia yang mulia.
v Perzinahan itu adalah peradaban binatang liar.
v Kita bukan binatang.
Dalam bahasa moderennya kecerdasan tersebut disebut kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Walaupun sesungguhnya istilah tersebut belumlah dapat menandingi kandungan dari akhlak itu sendiri. Akhlak yang seakar dengan kata khalaka, mempunyai akar kata yang sama dengan kata khaliq dan makhluq. Kaitannya dengan ini maka karakter yang ada dalam istilah akhlak memiliki hubungan yang kuat sekali antara kedudukan seorang manusia sebagai hamba –makhluk dengan Allah sebagai Khaliq. Dengan ukuran seperti itu maka nilai baik buruk pada akhlak ditentukan standarnya oleh Allah SWT sendiri lewat kitab suci dan sunnah Rasulnya.
Rasul SAW benar ketika melihat bahwa manusia dengan akal, nafsu, dan perasaannya sanggup mencipta, berfikir, dan berbudaya tinggi tetapi kesemuanya itu menjadi sia-sia ketika tanpa diselimuti dengan akhlak sebab justru kemajuan dicapai manusia itu menjadi penyebab utama munculnya berbagai macam kerusakan dan penderitaan manusia terhadap sesamanya. Tanpa akhlak maka seorang ilmuwan tidak segan-segan memproduksi racun yang mematikan untuk sesama manusia. Seorang ahli teknologi tidak segan-segan menciptakan senjata pemusnah yang diarahkan kepada sesama manusia sebagaimana kita saksikan.
Demikianlah seterusnya seorang politisi amat tega tertawa-twa senang karena berhasil menggolkan konsep tentang tambahan jatah Rp. 10 juta rupiah perbulan sementara rakyat yang memilihnya dulu justru ada yang mati dalam kemiskinan ketika antri menunggu dana kompensasi BBM. Kejadian disebut dengan kejadian yang paradoksal. Bahkan terdengar kabar beberapa kepala desa terpaksa minum racun karena tidak tahan di demo rakyat, ada juga yang minggat.
Ditengah-tengah kejadian itu, pemerintah dan legislative, orang-orang kaya, dan orang mempunyai kekuatan lainnya sangat terkesan tidak peduli. Mengapa ? Sebenarnya mereka memiliki kemauan untuk peduli tetapi tidak memiliki kesanggupan ? Lho kok gitu. Iya kesanggupan gerak itu bersumber dari nurani yang bermandikan cahaya akhlakul karimah. Justru inilah kendala utama nurani para politisi dan penguasa serta orang yang mampu lainnya, telah lama padam sejak mereka duduk di atas kursi empuk, makan, minum, dan punya rumah serba gratis atau karena tunjangan jabatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar