Tanggal 18/5/2008 saya pergi cukur rambut bersama kedua anak lelaki saya Fauzan (11 tahun) dan Haedar (7 tahun) . Setelah Fauzan cukur rambut Uminya membuka bajunya untuk membersihkan sisa-sisa rambut yang menempel di badanya. Saat Fauzan buka baju saya buka pintu salon. Segera Fauzan menutup pintu salon itu. Lalu Fauzan berargumen malu dilihat orang banyak. Yaa memang banyak orang di situ sebab memang salon ini berada di pasar bulu-bulu Maros. Seorang anak kecil lelaki malu telanjang dada di depan orang banyak ? Apakah ini fitrah, inikah nurani manusia sebagai bibit awal rasa malu itu ?
I. Pendahuluan
Beberapa tahun yang lalu ada sebuah peristiwa yang menghebohkan masyarakat, yakni seorang artis cantik Indonesia Sophia Lacuba berpose telanjang. Masyarakat, khususnya bagi yang peduli menanggapi dengan serius. Koran jadi ramai, radio jadi ribut, dan televisi pun tambah semarak. Hampir semua media menayangkan tentang peristiwa yang menghebohkan itu.
Para pemerhati MORAL BANGSA bangkit mengritik perbuatan Sophia Lacuba yang berpose telanjang. Seingat saya , mereka marah dan mengritik karena mereka beranggapan Sophia Lacuba telah menodai bangsa Indonesia yang menjujung tinggi nilai susila - nilai budaya bangsa Indonesia yang luhur.
Sebenarnya apa yang dilakukan Sophia Lacuba hanyalah sebuah sampel yang mewakili sekolompok populasi masyarakat Indonesia yang setuju dan memang berpakaian telanjang diera global ini. Sophia Lacuba dan yang sependapat dengannya berargumentasi bahwa apa yang dia lakukan sesungguhnya adalah ekspresi seni. Yaa art for art, seni untuk seni.
Seni terindah bagi penganut pemahaman tersebut adalah tubuh wanita itu sendiri. Saking indahnya tubuh wanita maka lelaki setegar singa pun akan takluk di depannya ketika disodorkan karya seni yang super indah ini. Melihat tubuh wanita telanjang dengan pose sedemikian rupa maka dapat dijamin bahwa seorang lelaki normal akan terpaku dengan seribu macam rasa yang membuat kelenjar kelaki-lakian menjadi panas dan cenderung akan menjadi liar.
Tetapi kalau hal itupun terjadi maka dengan segera Agnes Monica pada suatu waktu di media TV, ketika ia dengan teman-temannya yang sepaham menolak Undang-Undang Pornographi mengatakan kurang lebih demikian bahwa lelaki yang terangsang melihat tubuh wanita setengah telanjang atau telanjang adalah lelaki yang berfikiran kotor atau cabul sebab soal terangsang atau tidak bukan soal telanjang, buktinya di Arab juga lelaki itu nakal padahal perempuannya pakai cadar, demikian ungkapan yang saya sempat ingat. Saya tidak persoalkan apa kata Agnes sebab memang dia adalah artis yang memang memperoleh uang sebagai selebriti yang salah satu syaratnya adalah pada umunya membuka aurat. Maksud saya sangat wajar dia berfikir begitu karena dia bukan seorang psikolog, dia bukan ahli biologi, dan dia bukan seorang ilmuan semacamnya yang memahami seluk beluk manusia baik secara fisik maupun secara psikis yang menghantarkan pemahamannya kepada kemashlahatan hidup manusia secara luas.
Dengan argumen Sophia Lacuba, Agnes Monica, dan juga tidak sedikit orang yang sepaham dengannya maka budaya berpakaian tetapi telanjang atau memang telanjang, baik telanjang setengah-setengah atau telanjang bulat-bulat semakin berkembang di tanah air bangsa Indonesia ini yang dikenal sebagai bangsa timur yang menjunjung tinggi nilai-nilai susila keagamaan. Kita menyaksikan rangkaian untaian perilaku berpenampilan dan bergoyang seronok sebagaimana kata orang melayu. Kita menyaksikan goyangan ngebor Inul, penampilan dan goyangan gergaji Dewi Persik, dan terakhir ini penampilan dan perilaku seronok dari Julia Peres. Yaa semua itu dilakukan dengan argumentasi kebebasan ekspresis seni, sekali lagi art for art. Meskipun argumen ini juga sudah telajang dari maksudnya sebab bukankah dengan amat gampang kita membaca bahwa semua itu juga telanjang demi uang atau art for money.
Kebetulan atau tidak kebetulan bangsa Indonesia mayoritas beragama Islam yang tentu saja berpenampilan telanjang itu menjadi salah satu pelanggaran susila terbesar menurut ajaran agama ini sebagai Standar Operating Prosedure (SOP) dari Allah swt. dalam melakoni hidup sejenak di dunia ini
II. Ideologi itu Pangkalnya
Jadi apa yang kita saksikan di atas tadi adalah fakta dan data bahwa memang setiap perilaku itu tampaknya bersumber dari ide-ide yang tertanam dalam sanubari, otak, dan sel-sel tulang belakang penganutnya. Mengapa orang berpakaian tetapi telanjang atau memang berpenampilan telanjang karena mereka beride bahwa telanjang itu bukan soal moral susila, bukan soal pelanggaran nilai utama budaya bangsa, dan bukan pula soal nilai utama dalam ajaran suatu agama. Telanjang itu soal seni. Yaa telanjang itu soal keindahan. Jadi sekali lagi tolong jangan dikaitkan dengan yang lain. Kecuali yang berkait dengannya, misalnya soal ekonomi, soal ketenaran, soal kebebasan itu sendiri.
Dengan kata lain nilai budaya bersumber dari ide-ide yang berkembang diakui atau tidak akan membawa perkembangan bangsa sesuai dengan nilai budaya itu. Meskipun nanti pada akhirnya kita akan baru mengetahui bahwa nilai budaya yang berkembang ini secara emperis salah, keliru, atau sesat setelah kita merasakan akibatnya. Misalnya saja berpenampilan telanjang dengan segala kaitan yang ada padanya, baik ideologinya, pribadi pelakunya, sarananya, produk budaya yang tercipta dengannya mengakibatkan tumbuh suburnya perzinahan. Lalu perzinahan itu sendiri menimbulkan multidampak antara lain :
1. perilaku hidup boros yang juga berbahaya;
2. goyahnya sendi-sendi keharmonisan rumah tangga akibat munculnya penyakit perselingkuhan yang akan menciptakan generasi kacau, lemah secara psikis dan intelektual.
3. timbul penyakit –penyakit amat sangat berbahaya seperti AIDS.
4. terbuang-buangnya waktu yang mulia; dan
5. kegelisahan batin yang akan menimbulkan psikosomatik lainnya.
III. Wanita Mulia berpakaian Mulia
Menurut catatan sejarah yang sempat saya baca dari berbagai media, khususnya Ensiklopedia, ditemukan fakta bahwa orang-orang bangsawan pada abad-abad yang lampau seperti yang ada di Inggeris memakai pakaian yang anggun, tertutup, panjang, dan tidak telanjang khususnya ketika mereka berada ditengah orang-orang banyak. Bahkan saking tertutup dan panjangnya pakaian itu sebagiannya terseret di tanah. Mereka menyadari diri mereka bahwa mereka bangsawan yang dipandang mulia menurut masyarakat yang menganut sistem feodal waktu itu. Oleh karena itu mereka juga harus memperhatikan penampilan mereka khususnya dalam berpakaian sesuai dengan derajat kebangsawanan mereka yang dimuliakan.
Menurut budaya mereka sepakat bahwa pakaian yang cocok dengan perempuan bangsawan adalah pakaian mulia pula yakni berpenampilan anggun, serasi, nyaman, indah, dan dengan cirri
khas menutupi seluruh tubuh meskipun dengan gaya, model, dan corak yang bervariasi.Oleh karena itu di zaman itu orang-orang akan mengenal ketika perempuan itu hadir di sebuah tempat. Oh itu pasti perempuan mulia , oh itu pasti perempuan bangsawan. Bahaya, jangan coba-coba berbuat jahil padanya. Jangan coba-coba bersiul padanya, jangan ganggu, dan jangan goda. Perempuan itu kelihatan sopan, anggun, serasi, penuh pesona yang mugkin sekarang seperti tokoh Aisyah dalam film Ayat-Ayat cinta atau Khumaerah dalam Sinetron Munajah Cinta. Sungguh perempuan yang penuh keindahan, pesona, tetapi tidak menimbulkan gejolak syahwat yang liar melainkan kekaguman, keteduhan, kenyamanan, dan keharmonisan ciptaan Tuhan.
Begitulah pada zaman itu, kalau ada perempuan berpenampilan telanjang, maka sudah sama-sama paham tanpa perdebatan lagi masyarakat keseluruhan akan mengatakan itu oh itu budak, itu perempuan non-bangswan, oh itu penari istana, oh itu budak yang disewakan untuk menyanyi menghibur kita-kita. Yaa kira-kira seperti itulah.
Mirip dengan kasus di atas dalam sejarah Islam disebutkan sebuah riwayat oleh Ibnu Sa’d dalam at-Thabaqat yang bersumber dari Abi Malik bahwa suatu malam isteri –isteri Rasulullah Nabi Muhammad saw. pernah keluar malam untuk qadla hajat ( buang air). Pada waktu itu kaum munafiqin mengganggu dan menyakiti mereka. Kemudian peristiwa tadi diadukan kepada Rasulullah saw, sehingga Rasullah saw. menegur kaum munafiqin. Lantas orang munafik menjawab: “Kami hanya mengganggu hamba sahaya”. Maka turunlah al-Qur’an, Surah Al-Ahzab (33), ayat 59 sebagai perintah untuk berpakaian tertutup, agar mereka berbeda dari hamba sahaya. : “.Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya] ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S.33:59).
Sepotong kisah tersebut mempertebal keyakinan kita bahwa pada zaman abad ke-6 M dimana Nabi Muhammad SAW hidup waktu itu, juga sudah terbentuk suatu budaya peradaban bangsa di Timur Tengah, baik mereka yang beragama Islam, Yahudi, mapun Nasrani bahwa wanita mulia berpakaian mulia dan wanita rendahan berpakaian rendahan pula yang ciri-cirinya berpenampilan setengah telanjang atau telanjang.
IV. Mengapa Manusia butuh Pakaian ?
Mengapa manusia mesti berpakaian ? Mengapa hewan tak berpakaian ? Jawabnya karena manusia itu manusia hewan itu hewan. Kata lain hewan tak perlu berpakaian sebab memang hewan tidak berbudaya dan tidak berperadaban sebab mereka tidak memiliki akal untuk membangun sebuah peradaban. Hewan adalah bagian dari materi yang menjadi unsur pembangun peradaban yang dilakukan oleh manusia. Manusia itu makhluk yang berfikir, manusia mahluk yang berbudaya . Dengan kata lain manusia disebut manusia karena manusia berperilaku manusia dan hewan disebut hewan sebab hewan memiliki syarat untuk disebut hewan. Jadi kemampuan berperilaku dan memang berperilaku seperti sesuatu itu maka sesuatu itu disebut seperti itu. Mengapakah kucing disebut kucing dan tidak disebut anjing ? Karena kucing memiliki segala persyaratan untuk menjadi kucing dan kucing memang berperilaku kucing. Kalau ada kucing tiba-tiba menggonggong dan tidak mengeong maka tentulah orang-orang mengatakan itu kucing aneh, kucing jadi-jadian , kucing tidak normal, atau ia bukan lagi kucing seutuhnya.
Salah satu ciri perilaku manusia normal itu membutuhkan perlidungan badan dari hawa dingin, panas, dan cuaca lainnya. Begitu pula manusia membutuhkan perlindungan dari rasa hina, minder, dan harga diri mereka sehingga mereka malu bila mereka telanjang. Oleh karena itulah mereka berpakaian. Manusia yang tidak berpakaian atau berpenampilan telanjang biasa disebut manusia berbudaya primitif, seperti sebagian manusia di Irian Jaya dahulu.
Menurut para peneliti dari berbagai bidang studi menemukan bukti bahwa dengan berpakaian itu manusia memenuhi tiga kebutuhan hidupnya antara lain : (1) pakaian melindungi manusia dari unsur-unsur seperti sinar matahari, salju, hujan, dan lain-lain; (2) menjaga sopan santun; dan (3) memperindah diri serta menjaga martabatnya sehingga manusia terhindar dari rasa minder, rendah, dan hina dalam pergaulan sehari-hari.
Itulah sebanya terkadang seorang yang memiliki citra diri yang tinggi akan memilih pakaian yang pantas sesuai dengan tempat dan waktu di mana mereka berada. Saya ingat sebuah ungkapan Imam Al-Gazali bahwa dari sekian macam belanja ada yang dinamakan belanja kesatria, antara lain kita membeli pakaian yang dengan memakainya orang aka menghargai kita selayaknya.
Mungkin anda pernah mendengar cerita di mana seseorang datang ke pesta tetapi tidak dijemput dan dilayani selayaknya karena pakaiannya jelek. Tetapi ketika dia pulang dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang bagus maka orang-orang menjemputnya dan melayaninya dengan layak.
Dalam sejarah dikisahkan konon ketika Nabi Adam dan Hawa memakan buah terlarang dalam Surga maka segera aurat mereka terbuka sehingga mereka malu. Untuk menutupi auratnya itu Nabi Adam dan Hawa mengambil dedaunan untuk menutupinya
Melalui kajian sejarah ditemukan bahwa semakin tinggi budaya suatu bangsa sesungguhnya semakin sopan pula tata berpakaiannya. Tentu saja peradaban yang dimaksud di sini adalah bukan peradaban yang berideologi materil semata yang telah melahirkan kepincangan hidup seperti kita rasakan hari ini.
V. Ketelanjangan Budaya
Tadi sudah dijelaskan bahwa pakaian itu berfungsi untuk melindungi badan dari ketelanjangan, bukan justru pakaian membuat telanjang manusia. Dalam tataran fisik memang sudah cukup bila manusia itu berpakaian untuk melindugi tubuhnya dengan pakaian yang sopan, rapi, nyaman, dan menutup aurat atau kehormatan diri. Tetapi dalam kehidupan ini ternyata masih banyak elemen lain yang perlu kita lindungi salah satu diantarannya adalah tata kehidupan kita yang terpantul dalam budaya dan peradaban yang kita bangun. Budaya dan peradaban manusia juga tidak boleh seronok atau telanjang. Budaya juga perlu pakaian. Bila budaya dan peradaban manusia telanjang maka manusia akan malu pula sebagaiaman juga manusia akan malu berjalan di tengah pasar dengan telanjang. Di saat seperti itu telah terjadi ketelanjangan budaya.
Yang saya maksud ketelanjangan budaya adalah budaya kita lepas dari sifat-sifat luhur yang dapat mengangkat harkat martabat bangsa dari keterpurukan saat ini. Bangsa kita saat ini mengalami ketelanjangan budaya dari pakaian berupa sifat luhur seperti rasa malu, jujur, berani, cinta bangsa, cerdas, hemat, pengasih, pantang menyerah, dan adil, dan seperangkat karakter luhur lainnya.
Di bawah ini saya akan kutipkan beberapa karakter bangsa yang menunjukkan ketelanjangan budaya yakni beberapa ciri-ciri perilaku bangsa Indonesia yang ditulis Bung Mukhtar Lubis ( 1977) dalam bukunya yang kontroversial “Manusia Indonesia” (Sebuah Pertanggungjawaban) antara lain ;
1. Munafik. Contoh yang relevan yakni lain di hati lain pula di mulut. Tidak konsistennya antara perkataan dan perbuatan. Apabila berkata bohong, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya khianat.
Perilaku manusia Indonesia sulit dipahami. Sering mempromosikan sebagai bangsa yang ramah, tetapi mudah marah; mengaku kaya raya, tetapi miskin; mengaku relgius, tetapi sering tidak religius (KKN); mengaku negara hukum tetapi suka melanggar hukum (contoh kecil : berlalulintas); janji datang tetapi ingkar; mau modern, tetapi ke dukun. Tidak mengatakan tidak jika memang tidak. Tidak mengatakan ya jika memang ya. Kita sering berada antara ya dan tidak. Kita sering bersifat ganda (ambivalen). Banyak ungkapan paradoksal dalam budaya kita. Misalnya, pantun Sunda, “teras kangkung galeuh bitung” ( inti bamboo adalah inti batang kangkung). Di Cerebon ada ungkapan, “galih kangkung” ( batang kangkung itu, isinya kosong). Ungkapan lain, “kakak adiknya si bungsu, si cebol meraih bulan, si buta menghitung bintang, ngono ya ngono tapi ojo ngono” ( Begitu ya begitu tapi jangan begitu). Sikap ganda kita sudah tua dan berakar pada budaya.
Seorang raja harus dapat mengharmoniskan delapan kepemimpinan Hastabrata yang bertentangan satu sama lainnya. Seorang raja harus berwatak air, tetapi juga api, berwatak bumi, tetapi juga matahari, berwatak bintang (memberi petunjuk), tetapi juga samudra ( minta masukan). Pawang pun paradoks, bisa menyembuhkan si sakit dan bisa membunuh si sehat (santet). Kita juga diam, bahkan tidak berdaya membiarkan pengusaha membangun tempat maksiat seperti perjudian, pelacuran, dan sebagainya serta menarik pajaknya untuk pembangunan termasuk pembangunan tempat – tempat ibadah dan pendidikan. Hal yang lebih parah adalah menggunakan uang hasil korupsi untuk menyekolahkan anak-anaknya dan membelanjakannya demi kepentingan agama, misalnya naik haji, umroh, menyumbang sekolah, menyumbang mesjid, membayar zakat, memberi zedekah kepada fakir miskin, memberi zedekah pada anak yatim piatu dan sebagainya.
2. Segan dan enggan bertanggung jawab. Contoh Jika terjadi kegagalan terhadap dirinya, manusia Indonesia cenderung melemparkan kegagalan itu sebagai akibat perbuatan orang lain. Coba perhatikan kalimat berikut ini, saya tertusuk paku. Di sini manusia merasa menjadi korban dan paku menjadi agen pelaku. Padahal kalau saja paku bisa bicara maka tentu paku akan berkata pula : “Manusia sedang menginjak-injak saya ketika saya sedang terbaring merinntih karena mendertia penyakit berkarat setelah manusia membuang di saat saya dianggap tak berguna lagi.”
Di jepang, seorang menteri dengan sportif akan mundur jika ternyata gagal dalam menjalankan tugasnya. Pejabat di Indonesia justru cenderung menyalahkan rakyatnya. Sebagai contoh harga BBM dalam negeri terlalu murah karena subsidi dibanding harga minya dunia, tetapi mereka lupa membandingkan daya beli dan penghasilan orang luar negeri dengan dalam negeri.
3. Feodal. Contohnya bangsa kita terutama pejabat minta dilayani daripada melayani. Mengangkat pembantu sebanyak-banyaknya agatr semakin banyak yang menghormati.
4. Masih percaya tahyul. Contohnya, suka menonton penayangan film horror dan dunia lain. Mengaku moderen tetapi masih sering pergi ke dukun untuk berbagai keperluan.
5. Punya watak lemah. Contohnya, mudah dipaksa berubah keyakinannya demi kelangsungan hidupnya, mudah berubah pikirannya. Watak lemah ini erat kaitannya dengan mental munafik tadi.
6. Senang bernostalgia. Contoh : Ternyata lebih enak hidup di zaman orde baru ketimbang di era reformasi ini.
7. Cepat marah. Contohnya, hampir tiap hari kita saksiskan di tv terjadi kemarahan para demonstran. Tawuran antara mahasiswa biasa menjadi pemandangan biasa. Sedikit tersinggung langsung bunuh orang.
8. Tukang lego. Contohnya, bangsa kita pandai menjual barang-banrang bekas. Biasanya untuk ganti model baru. Handphone selalu miodel baru, yang lama dilego. Sudah pandai mencari uang, harga diri dilego untuk mendapat kekuasaan, harga diri dilego untuk mendapat kekayaan.
9. Suka merek luar negeri demi gengsi. Manusia Indonesia lebih suka membeli produk-produk yang mahal harganya asalkan dari luar negeri daripada membeli produk dalam negeri meskipun mutunya lebih tinggi.
10. Pemalas. Contohnya, bangsa kita adalah bangsa yang santai, kurang menghargai waktu. Waktu digunakan berjam-jam untuk mengobrol bukan untuk kerja produktif baik dikantor maupun di tempat lain. Konon bangsa kita bangsa termalas nomor 3 di dunia.
11. Konsumtif. Setiap ada produk baru dan obralan pasti diserbu. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling banyak belanjanya di tanah suci dan Singapura.
Kemudian Koentjaranigrat (2004) menambahkan ciri sifat mentalitas bangsa Indonesia adalah (1) suka meremehkan mutu, (2) suka menerabas, (3) tidak percaya pada diri sendiri, (4) tidak berdisiplin murni, dan (5) suka mengabaikan tanggung jawab.
Dengan ketelanjangan budaya seperti tersebut, maka bangsa kita sedang menderita rasa malu, itupun kalau belum gila, akibat membuka pakaiannya. Kasus korupsi, pungutan liar, illegal logging, suap, birokrasi bertele-tele, perselingkuhan, kasus narkoba, dan berbagai penyakit sosial lainnya tampaknya belum menandakan adanya arus menurun, justru masih menunjukkan arus meningkat.
Dalam memperingati 100 tahun kebangkitan bangsa justru bangsa Indonesia tampaknya mengalami masa sekarat “kebangkrutan”. Sehingga Rahman Arge di Fajar Minggu, 18 Mei 2008, menulis “Indonesia for Sale”. Konon tulisan itu tercatat dalam kilasan media cetak asing. Sehingga Bung Rahman Arge kembali menyemangati kita dengan semangat yang pernah dimiliki putra bangsa ‘the Founder nation” Bung Karno yang berteriak di Istananya : “Di mana dadamu ? Ini Dadaku.’ Ini harga diri bangsa yang besar. Menurut Rahman Arge meskipun kita ini sedang terpuruk tetapi jangan menjual harga diri dengan memelas atau meminta-minta di depan bangsa Asing yang tetap berjiwa colonial dan imperialis itu.
Yaa saya tidak sependapat dengan Bung Rahman Arge karena memang saya masih segan memakai kata sependapat dengan seorang penulis besar yang berpikiran besar dan berkomitmen tinggi untuk memberikan pakaian kehormatan kepada budaya bangsa yang sedang telanjang ini. Jadi saya hanya mengatakan saya ikut dengan petunjuk beliau tentang petuah beliau di atas. Sayapun belum juga mengerti apakah juga saya telah ada di dalam lingkaran ketelanjangan budaya itu atau tidak ? Saya masih sedang mencari.
VI. Wahai Pelacur Berkumpullah
Kalau tidak salah ingat pernyataan tersebut adalah sepotong dari puisi karya Bung Rendra sang Burung Merak. Yaa, beliau memanggil dengan sungguh-sungguh memanggil para pelacur
Jakarta agar segera berkumpul adakan musyawarah mufakat. Siapakah itu para pelacur ? Mereka itu para birokrat, konglomerat, legislator dan terkait dengan mereka dalam menggorogoti bangsa ini melebihi tikus-tikus menggorogoti padi petani di malam hari.
Pelacur itu adalah mereka-mereka yang telah membuang seluruh pakaian malunya, siri’na, pecce-nya, rasa kasih sayangnya sesama anak bangsa, dan pakaian luhur lainnya sehingga kini mereka bertelanjang gentayangan laksana hantu-hantu di malam hari menggorogoti bangsa ini sampai sekarat-karatnya. Dengan budaya telanjang tampaklah anak bangsa kita berkarakter rakus, malas, bodoh, tak cinta bangsa, tak kenal rasa malu, individual, munafik, mental menerabas, dan aji mumpung. Mereka yang seharusnya memagari bangsa ini dari keterpurukan dan melindungi bangsa ini dari tipuan bangsa asing, justru mereka laksana pagar makan tanaman. Mereka justru menjual bangsa Indonesia ke bangsa lain dengan dalih demi Penanaman Modal Asing (PMA)
Bukti-bukti dari pernyataan tersebut sungguh selalu termuat dalam koran-koran yang terbit setiap hari. Begitu pula bila kita menghidupkan radio dan televise maka dijamin bahwa salah satu isi beritanya adalah korupsi, suap, illegal logging, `penyeludupan, dan semacamnya.
Pada tanggal 18 Mei 2008 tahun lalu saya menonton Televisi siaran RCTI, saya mengikuti siaran berita tentang wafatnya seorang idealis Sophan Sophian. Pada saat itu saya ingat salah satu pernyataan yang menghentak dadaku yaitu pernyataan Slamet Raharjo seorang aktor kawakan seangkatan dengan almarhum, beliau mengatakan : “Salah satu kesalahan almarhum Sophan Sophian adalah beliau terlau jujur ditengah-tengah bangsa yang tidak karu-karuan ini.” Saya pahami bahwa Bung Slamet Raharjo itu mencoba memberikan ungkapan sarkasme mengenai bangsa besar yang lagi sakit ini.
Salah satu bukti ketidakkaru-karuan itu adalah ketika Sophia Lacuba mendapat kritikan dari berbagai kalangan tentang perilakunya berpose telanjang yang dianggap sangat memalukan dan sangat melanggar moral susila tiba-tiba dengan berani berdiri tegak dan berbalik menohok para pengkritiknya termasuk saya. Sophia Lacuba bertanya balik : “Moral ? adakah moral dalam kehidupan bangsa kita ini ? Ketika itu saya tertunduk malu sendiri dengan pertanyaan ini? 100 % tetap saya tidak dapat membenarkan anak bangsaku berpenampilan telanjang atau tetap saya tidak setuju dengan perilaku yang ditunjukkan oleh Sophia Lacuba dan orang-orang yang sepaham dengannya tetapi di sisi lain dari sisi persoalan tata nilai budaya memang patut juga kembali mendengarkan merenungkan pertanyaan Sophia Lacuba yang mengakui dirinya sebagai anak bangsa yang memang tak bermoral sebagaimana saya dan juga para pengritiknya tak bermoral pula pada sisi lain dari kehidupan yang mulia ini. Yaa kita sama-sama telah hanyut dalam ketelanjangan budaya. Kita telah membuka seluruh pakaian kemulian kita. Kita telah membuka pakaian malu, pakaian cinta kasih, pakaian keadilan, pakaian kebenaran, dan pakaian keberanian kita. Sehingga seorang Guru Bangsa Bapak Prof. Dr. H. Amin Rais harus berteriak lantang : ”Selamatkan Indonesia”.
Pada saat itu maka betullah apa yang dinyatakan oleh Bung Slamet Raharjo : “ bahwa kesalahan Almarhum Bung Sophan Sopian adalah ia berlaku terlalu jujur ditengah-tengah bangasa yang tidak karu-karuang ini.
Pada saat seperti ini betullah pertanyaan seorang kawan bahwa sulit kita bedakan manakah si Salah dan manakah si Shaleh, manakah tau (manusia) dan manakah tai (kotoran manusia).
Pada saat seperti ini betul juga ungkapan guru saya Prof. DR. Aris Munandar -Rektor Universitaas Negeri Makassar - bahwa sesungguhnya perbedaan benar dan salah adalah tergantung pada ketahuan dan tidak ketahuan. Kalau anda ketahuan maka anda salah dan kalau anda tidak ketahuan maka nada benar. Kalau anda lagi memegang sebuah proyek maka ketika anda terdeteksi dan ketahuan oleh petugas hukum maka anda menjadi tersangka sebagai koruptor tetapi bila anda pandai berlagak dan tidak ketahuan maka anda menjadi orang terhormat. Karena memang pada hakikatnya dari hulu sampai hilir anda sudah berbuat salah menurut norma agama, nilai budaya, dan aturan yang berlaku.
Kalau anda sebagai seorang suami ketahuan maka anda salah seperti halnya Yahya Zaini, karena memang anda lagi selingkuh tetapi kalau anda tidak ketahuan anda benar dan dihormati anak istri. Begitulah seterusnya
Sekali lagi para pelacur bangsa dipanggil untuk berkumpul bermufakat untuk bertaubat. Mereka diharapkan tolong jangan lagi telanjang yang merangsang napsu birahi. Tolong ambillah dan pakailah kembali pakaian warisan nenek moyang kita yang sopan, nyaman, serasi, dan menutupi ketelanjangan budaya kita dari sifat jelek itu. Jangan berbuat yang memalukan bangsa ini yang memang sudah tidak punya malu ini.
Ah anakku, engkau sentakkan jiwaku ketika engkau malu bertelanjang dada di depan orang banyak. Ah anakku engkau ingatkan aku ketika engkau merah wajahmu menahan malu ketika saya katakan bahwa engkau telah memakan kuenya orang yang belum sempat dibayar oleh Ambemu ( ayahmu)
VII. Penutup
Sesungguhnya setiap persoalan tentulah memiliki benih yang tumbuh kemudian berkembang dan membesar di atas tanah yang subur. Akarnya akan menghujam ke tanah dan pohonnya akan menjulang ke langit dengan daun yang lebat kemudian berbunga dan berbuah. Sesungguhnya buahnya pohon masalah yang kita setiap saat kita kecap setelah kita tanam benihnya beberapa waktu lamanya. Berikut ini marilah kita renungkan hal berikut ini :
1. Buah tanaman persoalan yang kita kecap sekarang adalah : (a). kelaparan dan (b) ketakutan
2. Buah tadi terbentuk dari bunga kecemasan, kegelisahan, kerisauan, keraguan, dan kegundahan.
3. Daunnya adalah ketiadaa ilmu atau kejahilan terhadap hakikat hidup
4. Batangnya adalah keserakahan dan kemalasan
5. Akarnya adalah terputusnya hubungan manusia dengan Tuhan Sang Pencipta atau pengingkaran terhadap nikmat Allah, yakni MANUSIA TAK MENGENAL ATAU LUPA TERHADAP SIAPA DIRINYA SESUNGGUHNYA.
Oleh karena itu menurut hemat saya kalau kita bersunguh-sungguh berkamuan dan bertekad tegas untuk mencari solusi sosio kultural dari persoalan-persoalan anak bangsa yang kita kecap sekarang maka inilah langkah-langkah yang saya sarankan
1. Manusia Indonesia semestinya kembali menerima baik atau ridha terhadap Dewata Sewa’e
2. Seluruh olah pikir olah batin, dan ola raganya yang termaktub dalam seluruh sistem budayanya mestilah bersandarkan pada cahaya Dewata Sewa’e yang sesungguhnya telah ada dalam hati manusia yang disebut cahaya atau suara hati yang suci. Kalau juga masih belum ketemu cobalah tengok kembali kitab suci, sabda nabi, nasehat para wali, nasehat leluhur dalam lontara, dan pesan-pesan orangtua. Di situ kita akan betemu nilai mutiara yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.
3. Manusia kembali merenungi hakikat kehidupan dunianya
4. Untuk itu kita perlu kembali mengikuti suri teladan manusia-manusia pilihan dalam setiap kurun waktu dan tempat di bumi ini sebagaimana yang ada dalam sejarah panjang tentang kehidupan manusia itu sendiri.
5. Dari situ nanti kita akan kembali merekonstruksi falsafah hidup yang harmonis dari manusia itu sendiri sehingga ia akan kembali menjadi manusia yang bijaksana, bertanggungjawab, berkeadilan, berkasih sayang, bekerjasama, peduli, dan berbagi antara sesama. Begitu pula manusia akan kembali menjadikan Tuhan yang Maha Esa sebagai pelabuhan terakhir dari kehidupannya di dunia ini. Sehingga seluruh tetebengek kehidupannya bersumber dari dan menuju kepada Tuhan Yang Maha Kasih.
6. Untuk itu semua, saya sepaham bahwa memulai kerja berat tersebut kita berangkat dari proses pendidikan baik di rumah, sekolah, dan lingkungan. Kerja ini perlu komitmen dari seluruh unsur terutama para orang-orang legislatif, eksekutif, yudikatif, para ulama, orang kaya, pemuda, mahasiswa, PNS, Militer , dam dari seluruh elemen bangsa yang besar ini.
Kapan itu ? Mulai detik ini, jangan lagi menunggu sebentar sore. Mulai saat ini kembali kita memurnikan niat kita, mempersegar ingatan kita, membajakan tekad kita untuk bangkit dari selimut kebodohan, kemalasan, keculasan, dan keserakahan kita. Insya Allah kalau hal tersebut dilakukan dengan konsisten maka kira-kira kita akan membutuhkan waktu kurang lebih 25 tahun proses kebangkitan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya kita wajib berjihad dengan jiwa dan harta untuk mencapai cita-cita mulia ini. Mulai sekarang dari diri dan keluarga sendiri. Kita bisa

thank you sir, for your writing, may God help us to build our community
BalasHapus