.jpg)
Satu hari saya bertemu dengan kawan saya. Kira-kira sudah kurang lebih 20 tahun tidak bertemu. Kini tiba-tiba dia muncul di hadapanku dengan penampilan yang meyakinkan. Di sampingnya terparkir sebuah mobil kijang innova keluaran terbaru. Dari ceritnya saya ketahui dia memiliki perusahaan yang lagi naik daun. Jadi nggak heran bila kini ia memilikifasilitas kehidupan lebih dari cukup. Ringkasnya kini sebut saja dia Fauzan telah sukses dalam kehidupanya minimal dari sisi materi dan status sosial. Dengan umur kurang 40 tahun temanku itu sudah meraih banyak hal dalam kehidupannya.
Pada waktu lain saya bertemu teman lama saya lagi. Tepatnya dia teman kuliah saya dahulu di Unhas tahun 80 an. Kini dia telah menjadi seorang Professor atau Guru Besar Univesitas Haanuddin. Sebut saja namanya Prof.DR. Burhanuddin. Saya senang melihat dan mendengarkan kawan-kawan saya kini memantapkan eksistensinya dalam kehidupan yang singkat ini. Mengapa saya senang karena sekurang-kurangnya satu alasan sebagaimana pernah dikatakan oleh kawan saya yang lain yakni Drs. Arsyad bahwa kalau kawan kita sukses kitapun turut bergembira dan kalau kawan kita gagal maka kita turut cemas dan bersedih. Mengapa memangnya ? Yaa kalau kawan kita sukses kitapun ikut lega sebab tanggungjawab kita berkurang untuk ikut memikirkan apalagi ikut minta bantu kepada mereka. Tetapi kalau kawan kita gagal maka kita ikut cemas dan sedih. Sebab kita ini juga bagian dari orang yang belum menggembirakan lantaran kawan datang minta tolong. Aduh sedihnya. Betapa hati ingin menolong tetapi apa daya kitapun belum sanggup menolong diri sendiri.
Begitulah kira-kira canda kawan saya itu, meskipun memang mengandung kebenaran. Sekarang saya ingin melihat apa yang saya telah capai setelah berumur 40 tahun ? Adakah saya telah mapan dalam ekonomi, pendidikan, kebahagian rumah tangga, dan adakah saya telah memiliki fasilitas kehidupan semisal rumah, mobil, dan fasilitas lainnya ?
Wahai Tuhan yang Maha Bijak, ampunkan kesalahan hamba bila karena kebodohan sehingga bertanya seperti hal tersebut ?
Tak lama kemudian hatiku tiba-tiba terasa mendapat jawaban yang demikian terang.
1. Wahai Takuddin, cobalah berdiam sejenak saja. Lalu ambillah kertas dan pena kemudian tulislah satu persatu nikmat Allah padamu ? Subhanallah aku diam membisu tanganku tak mampu kugerakkan. Mulutku hanya mampu beristigfar. Wajahku tertunduk malu kepada zat yang maha cerdas dan bijak.
2. Kemudian suara batinku melanjutkan : "Takuddin apakah engkau cemburu kepada pemberian Allah pada makhluk lainnya yang nilainya tidak lebih dari sebesar biji atom jika dibanding dengan kenikmatan yang kamu rasakan dengan dekatnya engkau pada Allah.
3. Wahai Takuddin apa jadinya bila seorang anak kecil diberi pisau tajam dan api ? Tentu anak itu akan melukai dirinya bukan. Boleh jadi karena cintanya kepada anak-anaknya, maka seorang ibu tidak memberikan pisau tajam kepada anakya.
4. Memang diakui bahwa telah dijadikan indah menurut syahwat manusia terhadap harta benda, emas, perak, kebun-kebun, binatang ternak, jabatan, anak-anak, dan juga wanita. Tetapi semua itu bukanlah tanda bahwa bila engkau memperoleh semua itu maka kamu adalah orang bahagia dan beruntung.
5. Jadi sangat tergantug kepada kemampuan mensyukuri semua hal tadi. Bila engkau menjadi manusia yang cerdas dan setia bersyukur atas semua amanah Tuhan maka alangkah baiknya fasilitas tadi. Tetapi bila fasilitas tadi membuat kamu sombong dan ingkar maka alangkah jeleknya fasilitas tadi.
Tak lama kemudian hatiku tiba-tiba terasa mendapat jawaban yang demikian terang.
1. Wahai Takuddin, cobalah berdiam sejenak saja. Lalu ambillah kertas dan pena kemudian tulislah satu persatu nikmat Allah padamu ? Subhanallah aku diam membisu tanganku tak mampu kugerakkan. Mulutku hanya mampu beristigfar. Wajahku tertunduk malu kepada zat yang maha cerdas dan bijak.
2. Kemudian suara batinku melanjutkan : "Takuddin apakah engkau cemburu kepada pemberian Allah pada makhluk lainnya yang nilainya tidak lebih dari sebesar biji atom jika dibanding dengan kenikmatan yang kamu rasakan dengan dekatnya engkau pada Allah.
3. Wahai Takuddin apa jadinya bila seorang anak kecil diberi pisau tajam dan api ? Tentu anak itu akan melukai dirinya bukan. Boleh jadi karena cintanya kepada anak-anaknya, maka seorang ibu tidak memberikan pisau tajam kepada anakya.
4. Memang diakui bahwa telah dijadikan indah menurut syahwat manusia terhadap harta benda, emas, perak, kebun-kebun, binatang ternak, jabatan, anak-anak, dan juga wanita. Tetapi semua itu bukanlah tanda bahwa bila engkau memperoleh semua itu maka kamu adalah orang bahagia dan beruntung.
5. Jadi sangat tergantug kepada kemampuan mensyukuri semua hal tadi. Bila engkau menjadi manusia yang cerdas dan setia bersyukur atas semua amanah Tuhan maka alangkah baiknya fasilitas tadi. Tetapi bila fasilitas tadi membuat kamu sombong dan ingkar maka alangkah jeleknya fasilitas tadi.
Kini aku ingat kembali setelah lupa bahwa setiap orang insya Allah akan diberi nikmat kepada Allah menurut kadar masing-masing menurut kadar keilmuan, ikhtiar, dan kebijsanaan Tuhan yang Maha Cerdas. Alhamdulillah saya sehat, punya orang tua mencintai saya, punya saudara yang siap menolong saat diperlukan. Saya tidak punya hutang, masih hidup dan memiliki anak-anak yang sehat, cerdas dan menyenangkan. Terutama saya masih mengenal Tuhanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar