Sabtu, April 04, 2009

Masalah itu :Ujian Kehidupan

Oleh : Dinrahimi

Beberapa waktu lalu saya bersama istri berkunjung / bersilaturrahim dengan seorang keluarga di Perumahan Bulurokeng Permai Blok B2/ No 7 Makassar. Saya agak kaget ketika bertemu dengan keluarga tersebut. Beliau tampak hitam tapi pucat. Agaknya beliau menderita penyakit Leukimia. Sebuah penyakit yang belum ditemukan obatnya oleh dokter. Keluarga saya tersebut seorang sarajan Ilmu Gizi dan suaminya sendiri seorang dokter spesialis anak. Alhamdulillah Allah SWT memberikan anugrah kepadanya dengan pekerjaan dan penghasilan yang layak. Beliau beserta suaminya bertugas di rumah sakit dan di rumahnya ia membuka praktek. Dengan pekerjaan itu agaknya masalah keuangan tidak lagi menjadi masalah. Beliau bisa membeli rumah, mobil, dan keperluan lainnya.

Beliau berniat untuk menunaikan Rukun Islam ke Lima – Haji – di Baitullah Mekah. Meskipun dia sakit dia bertekad untuk tetap menunaikan rukun islam yang kelima itu. Memang beliau termasuk orang yang baik, insya Allah. Hal itu saya katakan setelah mengenal beliau sejak tahun 70 an sampai hari ini. Bukan hanya karena beliau sering membantu saya kalau anak saya sakit dengan gratis dan bukan juga karena mengurus kemanakan saya bekerja sebagai bidan rumah sakit tetapi karena memang beliau diakui oleh banyak orang bahwa beliau itu tidak sombong, suka membantu, bersahaja, tekun, dan taat ibadah.

Tapi itulah kehidupan. Agaknya Allah SWT mencukupi nikmatnya kepada beliau dengan sakit yang amat berbahaya itu. Di situlah masalahnya, ketika seseorang sukses menata kehidupannya muncul sesuatu yang lain seolah-olah menjadi rintangan untuk mengecap sukses hidup yang sempurna. Sampai di sini saya mengakui bahwa manusia itu memang amat terbatas dan lemah bagaimanapun sukses mereka telah raih. Manusia tidak akan pernah mengatasi beberapa hal, antara lain: Musibah, Konflik, Sakit, Tua, dan Mati,

Karena kelima faktor tersebut maka hampir setiap saat kita mendengarkan orang mengalami masalah. Orang di Kantor, Sekolah, Mesjid, Sawah, Kebun, Pinggir Pantai, Mall, dan berbagai tempat lainnya mengalami masalah. Begitu pula anak-anak kecil, remaja, orang dewasa, orang tua, kakek, dan nenek juga mengalami masalah. Buruh dan para Manajer juga mengalami masalah di perusahaan di mana mereka bekerja. Rakyat dan Pemerintah pada sebuah Negara juga mengalami masalah. Penumpang pesawat terbang dan para pilot juga mengalami masalah. Semua orang boleh dikatakan mengalami masalah.

Bahkan awal mula penciptaan manusia sudah ada kecenderungan bersama dengan masalah. Tak tanggung-tanggung malaikat sempat bertanya kepada Allah Al-Khalik mengapa manusia diciptakan yang nantinya akan menumpahkan dan mengalirkan darah ?

Terbukti beberapa waktu kemudian anak Nabi Adam benar-benar memulai pertumpahan darah, ketika Sang Kakak membunuh Sang Adik.

Tentunya kita bertanya-tanya apakah memang hidup ini hadir bersamaan dengan masalah ? Kalau ia apa sebenarnya hikmah dibalik semua ini ? Kalau tidak bagaimanakah sesungguhnya hakikat hidup ini ?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka ada baiknya kita memahami hakikat berikut ini. Allah menciptakan dunia dan kehidupan sebagai ujian bagi manusia. Oleh karena itu perisitwa yang dianggap masalah dalam kehidupan ini dengan sendirinya adalah ujian. Sebagaimana sifat ujian itu sendiri, terkadang Dia menguji manusia dengan kesenangan tetapi terkadang pula dengan pende­ritaan. Orang-orang yang menilai berbagai peristiwa tidak berdasarkan al-Qur’an tidak mampu menafsirkan secara tepat ber­bagai peristiwa tersebut, kemudian men­jadi ber­sedih hati dan kehilangan harapan ketika menghadapi masalah . Pada­hal Allah mengungkapkan rahasia penting dalam al-Qur’an yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang benar-benar beriman. Rahasia tersebut dijelaskan sebagai berikut:


Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.s. asy-Syarh: 5-6).

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam ayat ini, apa pun bentuk masalah, kesulitan, dan penderitaan yang dialami seseorang atau bagaimanapun situasi yang dihadapi, Allah menciptakan sebuah jalan keluar dan memberikan kemu­dahan kepada orang-orang yang beriman. Se­sungguhnya, orang yang beriman akan me­nyaksikan bahwa Allah memberikan kemu­dahan di dalam semua kesulitan jika ia tetap istiqamah dalam kesabarannya. Dalam ayat lainnya, Allah telah memberi kabar gembira berupa petunjuk dan rahmat kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya:

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan bagi­nya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (Q.s. ath-Thalaq: 2-3).

Betawakal kepada Allah artinya menggantungkan diri kepadaNya karena menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ada di bawah kendalinya, serta merasa yakin bahwa tak seorang pun dapat menolong atau mencelakakan orang lain tanpa seijinNya. Orang-orang beriman mengetahui bahwa Allah Mahakuasa, dan segala yang dikehendakiNya akan terjadi hanya dengan mengatakan “Jadilah!”. Mereka pun tak pernah tawar hati dalam menghadapi kesulitan. Mereka tahu bahwa Allah akan menolong mereka, dan yakin bahwa Allah akan memberikan kemudahan di dunia ini dan di akhirat kelak. Menyadari hal itu, hati mereka selalu tentram dan gembira.

Yang harus dilakukan seseorang yang beriman hanyalah merespons segala kejadian dengan perbuatan yang disukai Allah, dan menanti hasilnya sesuai kehendakNya.

Berdasarkan uraian tersebut maka tidaklah ada guna menghindari masalah yang menimpa kita tetapi lebih baik kita atasi masalah itu tips berikut :

1. Sadari sepenunya masalah itu

2. Deskripsikan dengan jelas masalah itu, semakin detail semakin bagus

3. Buatlah beberapa alternative jalan keluar dari masalah itu

4. Tempuhlah salah satu alternative setelah do’a istikharah kepada Allah SWT.

5. Tetaplah buat alternatif penyelesaian A,B, C, dan seterusnya . Cobalah alternatif berikutnya bila alternatif sebelumnya belum berhasil.

6. Tetaplah berserah diri kepada Allah Yang Maha Bijak dan Maha Kasih terhadap keputusan dan hasil yang kita peroleh.

7. Sadari sepenuhnya bahwa apapun yang terjadi pada diri kita, yang terpenting adalah hidup kita diridhoi Allah yang Maha Agung.

Sekian apa yang dapat saya tulis untuk kali ini. Semoga ada mamfaatnya.

1 komentar: